Kyai Lohot Hasibuan: Matahari dari Utara

Assalamu’alaikum wr. wb. Bapak-bapak/Ibu-ibu dan adik-adik muda, baik Muslim maupun non-Muslim, di mana saja berada. Semoga kita semua sehat-sehat saja. Di Sumatera, perbedaan provinsi menampakkan perbedaan suku/etnis, logat/dialek, budaya, dan alam. Ternyata nampak berbeda antara Aceh, Melayu Deli, Melayu Riau, Tapanuli, Minang, Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Lampung. Sejak zaman Hindia Belanda, orang Sumatera khususnya melihat suku Batak sinonim dengan Kristen, makan babi dan anjing: ini biasanya merujuk kepada etnis Batak Karo di utara Tapanuli. Gus Dur pun pernah berkelakar bahwa pada suatu hari seekor anjing hitam tak mau diperintah tuannya. Tiba-tiba tuannya bilang: “Awas ada Batak di belakangmu,” maka anjing itu pun langsung melompat lari ketakutan.

Pada umumnya, orang Minang, Jambi, dan Sumsel memandang orang Tapanuli, walaupun sebangsa, sebagai orang Utara yang masih bertanda salib. Anggapan semacam itu makin lama makin bergeser, terutama karena masyarakat semakin mengenal nama-nama tokoh Tapanuli, tokoh politik, dan intelektual yang beragama Islam di pentas nasional seperti alm. Jend. Abdul Haris Nasution, Prof. Harun Nasution, tokoh ternama di UIN Jakarta khususnya dan seluruh Indonesia umumnya, Ray Rangkuti, dan sekarang orang mengenal K.H. Abdul Somad Batubara/UAS (kiai/penceramah kondang).

Ternyata hari demi hari, suku etnis Tapanuli, Batak secara umum, nampaknya semakin dekat di hati. Kami di Sumatera saling membaur dan saling bertegur sapa. Karena membaur, bahkan kini sudah berdiri Gedung Pertemuan Karo Muslim di Mayang Ujung/Jl. Lingkar Barat Kota Jambi. Tulisan ini sengaja dibuat dari pendekatan sosiologi keagamaan, bukan untuk tujuan diskriminatif, tetapi lebih kepada curahan pengalaman penulis bersama seorang kiai asal Batak di Jambi. Dia terkenal dengan nama Lohot Hasibuan, perokok berat, berwatak polos, dan humoris. Semoga pembaca senang membacanya dan diharapkan persahabatan antarsuku dan antaragama semakin akrab.

Terdengar kabar pada suatu hari bahwa Kiai Lohot sakit. Maka saya cepat-cepat datang ke rumahnya. Alhamdulillah, masih sehat, masih suka ceria bergurau, dan rokoknya tak pernah padam sejak puluhan tahun. Ini adalah ringkasan dan ulasan atas hasil wawancara antara saya dengan Kiai Lohot pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, di rumahnya di belakang Masjid Ibu, Lorong Gotong Royong, Sipin, Jambi. Lohot adalah seorang ulama terkenal di Jambi, penceramah kondang, dekat di hati rakyat jelata, dikenal oleh ibu-ibu, pedagang kecil, PNS, petani, hingga pejabat di kantor-kantor bupati dan kantor gubernur Jambi.

Ia dilahirkan sekitar tahun 1947 di Sibuhuan. Sibuhuan adalah ibu kota Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, dekat dengan Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan. Lohot lulus Sarjana Muda di UNUSU (Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara) di Sidimpuan sebab masa itu belum ada jenjang S1 di Medan katanya. Jenjang S1 hanya ada di IAIN Aceh dan IAIN Padang.

Lohot mengembara ke Jambi waktu usia muda naik bus Sibual Buali, bekerja semrawut, menikah dengan gadis Jambi, pernah menjadi dosen IAIN Jambi, dan sekarang pensiun. Sekian puluh tahun menetap di Jambi, tiada hari tanpa berdakwah Islamiah baginya. Sekarang, dengan semakin terkenalnya nama Kiai Lohot Hasibuan di Jambi, anggapan negatif atas etnis Batak semakin bergeser. Dia ibarat matahari dari utara.

Rambut Gondrong

Lohot berkisah. Mula-mula ke Jambi naik bus Sibual Buali dari kampungnya selama tiga hari tiga malam, empat kali naik pelayangan menyeberang sungai, tak tahu tujuan, tidak punya sanak saudara dan tidak punya teman. Mula-mula tinggal di terminal bus Kebun Jahe, Jambi bersama preman terminal. Karena tak cocok dengan kehidupan terminal, Lohot lari ke Nipah Panjang (kota kecil di pinggir pantai timur Sumatera), bekerja di kapal mengangkut beras ke Tanjungpinang. Setelah lama berselang, Lohot tidak merasa cocok pula dengan kehidupan anak-anak kapal: ada yang suka mabuk minum alkohol, perempuan, dan lain-lain. Lohot ingin kembali lagi ke Jambi. Dari Jambi, Lohot terus ke Desa Tenam, Batanghari. Di Tenam, katanya, telah lama ada beberapa orang Tapanuli yang bekerja di perkebunan getah/karet. Lohot bergabung dengan mereka.

Kendati sudah bergabung dengan teman-teman asal Tapanuli di Desa Tenam, Lohot mengaku tak tamat SD sebab takut tak dibawa berteman nanti bila ketahuan bergelar Sarjana Muda. Ketika suatu saat Lohot sedang mandi di sungai, katanya, tasnya ditinggalkan di pinggir sungai. Rupanya salah seorang teman Tapanulinya mengintip isi tas Lohot dan menemukan ijazah Sarjana Muda miliknya. Maka kemudian Lohot disuruh mengajar agama di sekolah-sekolah di Desa Tenam. Antara Desa Tenam dan Desa Malapari dulu hanya terdapat jalan tikus, tiap hari dilalui bolak-balik berjalan kaki sambil berdakwah dan ceramah agama. Karena pintar berdakwah, nama Lohot semakin tersohor di seantero kampung. Anehnya, kata Lohot sambil tertawa kepada saya, kepala dusun/pasirah Desa Tenam masih meragukan keislamannya dan bertanya, ingin memeriksa apakah Lohot betul-betul sudah bersunat atau belum.

Penduduk desa semakin mengagumi Lohot. Lohot pernah suatu kali dipasangkan berceramah dengan Kiai Jalal, seorang ulama terkenal di Desa Terusan, Jambi. Ini terjadi pada acara Maulid Nabi yang berlangsung hingga tengah malam. Katanya, acara maulid berlangsung sangat meriah, berjubel, penuh masjid, bahkan karena lamanya panitia sampai tiga kali menambah minyak lampu petromaks. Nama Lohot sebagai pendakwah semakin tenar meskipun badannya masih kecil dan rambut masih gondrong hingga bahu, katanya.

Walaupun sudah mulai terkenal di pedalaman desa Jambi, Lohot ingin juga pulang ke kampung halamannya di Sibuhuan. Dia pun pulang kampung. Tetapi di kampung dia malah bertani menanam kopi. Selama tinggal di kampung, katanya, sering terjadi hal-hal magis. Lohot pernah tiga kali sehari bertemu ular di kebun, di perjalanan pulang, dan di sekitar rumah. Suatu kali Lohot sakit demam di rumahnya di kampung. Seekor ular besar tiba-tiba terasa berat tidur melingkar di atas selimutnya. Lohot terbangun dan kaget, ditariknya selimut tersebut, dan ular itu pun lari masuk lubang lantai papan rumahnya. Aneh.

Lalu kemudian Lohot dinasihati oleh bapaknya: “Lohot, memang tanah kelahiranmu di Sibuhuan ini, Nak, tetapi tanah hidupmu nampaknya di bagian selatan Sumatera,” kata bapaknya. Hal yang sama juga dikatakan oleh ulama besar di Sidempuan, K.H. Abdul Qadir Pardede, pimpinan UNUSU: “Lohot, rezeki hidupmu adalah di selatan Sumatera.” Atas nasihat dari bapak dan ulama besar tersebut, akhirnya Lohot pun kembali meninggalkan kampung halamannya menuju Jambi untuk kedua kalinya, dan kebun kopinya tak tahu nasibnya lagi, kata Lohot. Lalu saya memberanikan diri bertanya: “Kapan Bapak bertemu gadis Jambi?”

Ceritanya begini, katanya. Setelah kembali lagi ke Jambi, ada keinginan untuk masuk IAIN Jambi Fakultas Syariah pada tahun 1971. Saat kuliah itulah Lohot lalu menikah. Sambil kuliah, Lohot juga bekerja mencari nafkah. Sempat dia dimarahi oleh Rektor IAIN, Pak Munir S.A. Lohot dimarahi karena kuliah hanya dua minggu hadir, dua minggu absen. Ditanya oleh rektor: “Kenapa kamu sering absen kuliah?” Jawab Lohot: “Kalau Bapak adalah dosen terbang, saya pun mahasiswa terbang. Kalau tidak demikian, bagaimana saya akan membiayai rumah tangga saya?” Mendengar jawaban itu, rektor akhirnya mengizinkan Lohot hadir kuliah meskipun sering absen.

Kemudian Pak Munir tersebut dipindahkan/diangkat oleh Gubernur Tambunan menjabat Kepala Kantor Wilayah Agama Provinsi Jambi. Sementara rektor IAIN yang menggantikan Pak Munir ialah Prof. HMO Bafadhal. Pak HMO ingin agar Lohot menjadi dosen IAIN karena langkanya calon dosen pada waktu itu. Kata Lohot, Pak Munir memanggil Lohot ke Kanwil Agama: “Lohot, kalau kau mendaftar jadi hakim agama, nanti saya yang akan tanda tangan SK-mu. Tetapi kalau kau melamar jadi dosen IAIN Jambi maka HMO yang akan tanda tangan SK-mu.” Lohot memutuskan tak mau jadi hakim. Saya tanya: “Kenapa?” “Karena kerjanya menceraikan orang laki-bini,” kata Lohot penuh guyon. Itulah cerita lucu Lohot yang tak pernah habis-habisnya.

Lalu kapan kenal dengan gadis Jambi? Lohot akhirnya kenal dengan anak gadis muazin dan kebetulan sang calon istri juga murid Lohot di sekolah tempat dia mengajar sebelum sang calon melanjutkan studinya di Sekolah Menengah Muhammadiyah di tengah Kota Jambi. Sebagaimana diketahui, Lohot sebagai guru dan juga penceramah serta imam salat sering menyuruh tukang azannya (muazin) untuk azan. Tukang azan inilah yang bakal menjadi mertua Lohot. Dia punya anak perempuan empat bersaudara. Yang paling besar sudah menikah. Yang nomor dua inilah yang dijodohkan dengan Lohot. Sementara adik-adiknya dua perempuan lagi masih kecil-kecil.

Mertua Lohot katanya punya darah keturunan Tionghoa. Dulu kakek mertuanya adalah seorang toke Cina yang sudah lama bermukim di Desa Tenam sebagai pedagang karet terkenal dan kaya raya. Jadi darah keturunan Tionghoa masih ada hingga kini pada istri dan anak-anak Lohot. Salah seorang putri Lohot bernama Pakina Herliani Hasibuan (Butet), mahasiswa saya di Fakultas Syariah IAIN Jambi pada tahun 1990-an, sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga dan mengelola pesantren di Kota Muara Bulian, Jambi. Kiai Lohot sekarang juga punya besan di kampung saya di Payakumbuh, yaitu alm. Jon Afri (eks PNS/dosen Universitas Jambi), salah seorang kakak kelas saya di PGAN Payakumbuh pada tahun 1974. Itulah lika-liku kisah hidup Kiai Lohot.

Bagi saya pribadi, ada sebuah pengalaman yang sangat “menyentuh hati” dengan Kiai Lohot. Sekitar tahun 1988/1989, sebagai PNS baru, saya ditugaskan IAIN Jambi jauh ke Desa Pauh, Sarolangun, untuk menemani Kiai Lohot mengantar mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) jauh di luar kota. Kami naik motor berdua milik Kiai Lohot, saya dibonceng di belakang sebagai yuniornya. Tiba-tiba dalam perjalanan, di bawah panas terik, dihentikannya motornya di atas rumput di pinggir jalan aspal. Lalu dari dalam kantong bajunya dibukanya amplop putih di pinggir jalan. Rupanya itu adalah amplop berisi honor supervisor KKN. Dia bicara dengan logat Bataknya: “Kita bagi duit ini dulu….” Saya sebagai yunior sangat terkejut. Duit apa itu? Sebab saya pegawai baru diangkat, belum pernah menerima duit. Tersentuh hati saya yang paling dalam, heran, kagum, kenapa seorang senior mau membuka amplop, memperlihatkan isinya, transparan, polos, tulus, dan berbagi dengan saya. Padahal karyawan kecil seperti saya biasanya hanya diberi duit sekadarnya oleh atasan. Bensin motor dia yang beli, makan siang dia pula yang traktir. Kiai Lohot memang punya kepribadian yang menarik, menyentuh hati. Tetes air mata saya bila teringat kepolosan hatinya.

Lohot juga suka berbagi rezeki dengan atasannya. Pernah katanya dia masuk ke ruang Rektor IAIN Jambi (Dr. H.M. Chatib Quzwain) ketika selesai mendapat uang banyak sambil menawarkan: “Bapak mau uang enggak?” katanya. Rektor pun heran bertanya: “Dapat uang dari mana itu, Lohot?” “Diberi Pak Bupati Batanghari,” kata Lohot. Rektor pun tersenyum menerimanya dan mereka berbagi uang. Ternyata Lohot tidak mencari kaya.

Namun ada saja cerita miring. Lohot dan seorang temannya di Fakultas Tarbiyah IAIN Jambi bernama Muntholib (sekarang profesor) juga pernah dicurigai korupsi uang KKN oleh beberapa pejabat di IAIN Jambi. Lohot dipanggil oleh rektor untuk menghadap. Tetapi rektor mengajak Lohot naik mobil dinas bersamanya dari Fakultas Ushuluddin ke kantor rektor. Selera humor Lohot pun muncul sambil duduk dalam mobil di samping rektor: “Hebatlah aku ini,” kata Lohot. “Kenapa?” tanya rektor. “Sopir aku pun Rektor IAIN.” Lalu tertawalah mereka berdua dalam mobil terbahak-bahak. Setelah masuk ke ruang rektor, Lohot pun menjelaskan rincian uang masuk dan uang keluar, mulai dari catatan keuangan/honor pembagian untuk rektor, PR I, PR II, PR III, dan dekan-dekan serta dosen-dosen pembimbing. Semua jelas dan tuntas. Akhirnya rektor pun sambil tersenyum bilang: “Kalau begitu ya sudahlah, teruslah!” Lohot pun lega. Ternyata tak ada bukti korupsi. Itu hanya tuduhan tanpa bukti.

Perokok Berat

Rokoknya sejak lama Gudang Garam bungkus kertas, banyak cengkeh. Hingga bajunya pun bolong-bolong kena api rokok. Sekarang setelah lama pensiun dari PNS, rokok tak pernah padam di ruang tamunya bermerek Sampoerna Mild Evolution. Tanya-tanya, rupanya harga satu pak/10 bungkus mencapai Rp430.000 (hampir setengah juta). Aduh mahalnya rokok Kiai Lohot.

Pengalaman di Rumah Dinas Pejabat

Kiai Lohot katanya pernah ditahan oleh security di depan rumah dinas Bupati Batanghari karena memakai sepeda motor tua, sandal lapuk, dan baju lusuh dalam rangka mengantar mahasiswa KKN. Tetapi di pintu gerbang tiba-tiba muncul mobil dinas. Pak Bupati kaget melihat Kiai Lohot ditahan oleh satpam, maka langsung bupati turun dari mobil dinas dan menyalaminya di pintu gerbang. Lalu si satpam? Kabur menghilang, malu. Bupati kemudian mempersilakan Kiai Lohot masuk ke rumah dinas, dijamu makan, dan setelah itu bupati bilang: “Sekarang tinggalkan sajalah sepeda motor tua itu di tempat parkir rumah bupati.” Maka selanjutnya Kiai Lohot diantar dengan mobil dinas bupati ke mana-mana selama KKN.

Bagaimana Kiat Dakwah Lohot?

Dia tidak menampakkan “warna” Batak. Dia membaur, polos, rendah hati, mengenal audiens apakah orang desa, petani, PNS, pejabat, ibu-ibu pejabat, atau ormas. Lohot sebagaimana telah dikatakan tidak mata duitan, tidak pernah pasang tarif, selalu humoris, bahasanya sederhana dan jelas tradisinya NU. Akhir-akhir ini telah muncul dai-dai muda dari Tapanuli di Kota Jambi, misalnya Ustaz Dr. Samin Batubara. Bahkan tetangga saya juga seorang dai bernama Landong Rangkuti. Walau bagaimanapun, wajah etnis Batak bagi mayoritas umat Islam Sumatera bagian selatan semakin bergeser dari semula sangat kekristenan sekarang semakin berangsur keislaman. Bintang utara semakin menampakkan dirinya.

Apa Pelajaran yang Dapat Dipetik?

Banyak hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Kiai Lohot.

  1. Rupanya persoalan duniawi jangan terlalu melilit pemikiran kita. Biarlah yang berlalu tetap berlalu. Lohot memang pensiunan PNS, tetapi dia tak pernah memangku jabatan struktural internal IAIN.
  2. Humoris itu menyehatkan.
  3. Dalam dinas, jangan terlalu ambisius untuk mencari kekayaan. Bahkan uang pribadi yang sudah masuk kantong pun sebaiknya dibagi-bagi untuk orang lain. Akibat kepribadiannya yang tidak duniawi, akhirnya Lohot disayangi oleh banyak orang dan pejabat. Secara sosiologis, pandangan negatif atas etnis Batak mulai bergeser.
  4. Masyarakat Jambi umumnya mempunyai pandangan mulia kepada orang-orang yang banyak mengaji agama Islam. Ada tradisi unik di sekitar wilayah Jambi. Bila seorang anak muda baru saja tamat dari sekolah agama, maka status sosialnya naik. Biasanya di daerah Muara Bungo, anak muda tersebut pada waktu acara pesta pernikahan di kampung disuruh duduk rapi berjejer dengan pakaian Islami di atas lantai papan rumah yang letaknya agak ditinggikan di tengah rumah (mirip etalase) agar terlihat dan dapat diintip oleh calon-calon mertua yang punya anak-anak gadis yang sedang mencari calon menantu. Unik bukan? Apakah Anda berniat menjadi calon menantu orang Jambi? Silakan datang ke Jambi.

Sekianlah, pembaca setia. Kisah Kiai Lohot ini semoga menjadi teladan bagi adik-adik muda. Ketahuilah nasihat orang-orang bijak yang mengatakan bahwa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Kiai Lohot telah mempraktikkannya dari tanah Batak ke tanah Melayu Jambi. Kita berdoa semoga Kiai Lohot panjang umur dan kembali aktif berdakwah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
Amhar Rasyid, Jambi.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *