Moderasi Beragama Dalam 500 Kata

Moderasi beragama tidak sama dengan moderasi agama. Sebab agama telah mengajarkan nilai-nilai moderasi, keadilan dan keseimbangan. Di antara penganutnya, cukup sering ditemukan orang-orang yang tidak mengaplikasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama. Tidak ada agama yang mengajarkan ekstremisme, adalah sebuah kebenaran; dan tidak sedikit orang yang berubah menjadi ekstrem setelah “menjalankan ajaran agama”, adalah kebenaran lainnya. Moderasi beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, untuk menghindari diri dari perilaku ekstrem atau berlebih-lebihan saat mengaplikasikan ajaran agama.

Moderasi boleh disebut sebagai anti-tesis dari ekstremisme. Ekstremisme terang merupakan sesuatu yang buruk sebab dapat mendatangkan bahaya baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. Ekstremisme pada umumnya bersumber dari hal-hal buruk, dan pada faktanya hal-hal baik jika dilakukan secara berlebihan (also known as ekstremism pun dapat mendatangkan bahaya (KBBI: “mudarat”, merugikan, tidak berguna). Sedekah adalah perilaku yang baik, namun jika berlebihan hingga “menghabiskan isi dompet” dapat menjadi perilaku tabdzir. Ibadah adalah perilaku yang baik, namun jika berlebihan, “melakukan ibadah di tempat umum” dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Menyetel musik, murattal, atau shalawatan menggunakan sound adalah hal yang baik, namun jika berlebihan “menyetel musik di malam hari menggunakan sound” dapat mengganggu ketertiban umum dan mengusik ketenangan tetangga.

Moderasi (Inggris: moderation) berasal dari bahasa Latin moderatio, yang berarti ke-“sedang”-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Moderasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti pengurangan kekerasan dan penghindaran ekstrem. Kata adalah kata serapan dari “moderat”, yang berarti sikap selalu menghindari perilaku atau pengungkapan yang ekstrem dan kecenderungan ke arah jalan tengah. Kunci dalam moderasi adalah tidak berlebih-lebihan serta mengedepankan maslahat bersama. Indonesia terdiri dari beragam bangsa, suku dan agama. Dengan segala bentuk perbedaan tersebut, sudah seyogyanya seluruh lapisan dalam masyarakat menjaga ruang harmoni.

Agama adalah sistem yang mengatur kepercayaan, tata cara peribadatan kepada Tuhan, tata kaidah yang berhubungan dengan budaya, dan pandangan yang menghubungkan manusia dengan tatanan kehidupan. Esensi dari ajaran agama adalah nilai-nilai luhur kepada Tuhan dan kepada makhluk. Sudah sepantasnya agama ditempatkan sebagai inspirasi, bukan aspirasi, yang dapat mendatangkan nilai-nilai kebaikan. Untuk menempatkan derajat agama sesuai dengan marwahnya, dibutuhkan langkah-langkah tepat dan strategis dalam pelaksanaannya, yakni salah satunya melalui moderasi beragama. Dalam konteks keindonesiaan, mayoritas masyarakatnya adalah penganut Islam. Tidak bisa disangsikan bahwa kehidupan sosial dan beragama di Indonesia akan damai, tentram, dan penuh kebaikan jika sesama Muslim memiliki persaudaraan sebagai saudara seakidah (ukhuwah islamiyah).

Sejarah mencatat bahwa Indonesia merdeka bukan hanya berkat orang yang beragama Islam saja, tetapi Indonesia merdeka berkat seluruh penganut agama yang ada di Bumi Nusantara. Nasionalisme antarpemeluk agama di Indonesia dibutuhkan agar persatuan sebangsa dan setanah air tidak mudah dipecah belah baik dari serangan dari luar, gerakan ekstremisme dari dalam, atau perang saudara (ukhuwah wathaniyah). Indonesia juga memiliki kearifan lokal, budaya, dan adat yang menghargai, menghormati sesama serta memanusiakan manusia (ukhuwah basyariyyah).

Kekayaan kultur yang ada di Indonesia sudah sepantasnya dirawat dan dilestarikan, khususnya yang berhubungan dengan kemanusiaan. Jangan sampai perbedaan panji, partai, agama, adat, dan istiadat, meski hidup di Indonesia, justru memupuk sifat ego dan keakuan. Sebab “Jika dia bukan saudaramu seagama, dia saudaramu dalam kemanusiaan”, tutur ‘Ali bin Abi Thalib. Moderasi beragama tidak lain adalah upaya untuk menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *