Assalamu’alaikum wr. wb.
Bapak-bapak/Ibu-ibu/Adik-adik semuanya, generasi muda harapan bangsa di mana saja berada, baik Muslim maupun non-Muslim.
Yuval Noah Harari (Guru Besar Sejarah di Israel) yang sering muncul dalam berbagai forum-forum diskusi ilmiah di level internasional, dan juga sering dikutip pendapatnya oleh Prof. Amin Abdullah, mengatakan bahwa tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam akan mendapat persaingan ketat dengan AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), sebab ketiga agama besar tersebut, katanya, sangat menekankan kebenaran dari dalam kitab yang tertulis. Mendengar kata “tertulis (written/maktubah)” tersebut, saya langsung tersentak memikirkan bagaimana kira-kira dampaknya terhadap dakwah agama. Disaingi oleh AI? Itulah kata kunci (“keyword”) dalam tulisan singkat ini. Apa, bagaimana, dan kenapa terjadi persaingan, lalu apa akibatnya ke depan dalam bidang dakwah agama? Tulisan berikut akan mencoba menghadirkan refleksi penulis sebagai anak zaman.
Perlu diketahui bahwa tantangan dakwah di zaman kini, mengutip Google, ialah polarisasi di media sosial, hoaks, pengaruh negatif materialisme dan hedonisme, serta pentingnya memikir ulang metode dakwah, khusus bagi generasi milenial.
Sebelum membahasnya, penulis ingin menjelaskan bahwa kata “dakwah” di sini artinya ceramah agama lisan, bukan tulisan, yang disampaikan oleh para penceramah, khatib, dan buya dari berbagai langgar dan masjid. Dengan adanya perkembangan teknologi AI, dakwah lisan semacam itu, katanya, akan tersaingi dalam banyak hal. Berikut penjelasannya.
Pertama, daya ingat (memory) penceramah sebagai manusia tentu saja terbatas. Sebab daya ingat dalam ilmu psikologi menunjuk kepada daya serap kognitif otak, daya simpan, dan daya mengingat kembali peristiwa masa lalu; ia biasa disingkat dengan tiga istilah: encoding, storage, dan retrieval. Hafalan yang sudah dikuasai ustaz penceramah sejak di pesantren, MTsN, atau di bangku kuliah (Timur Tengah, Malaysia, IAIN/UIN) semakin lama akan semakin lupa. Sementara AI, kata Yuval, akan mampu mengingat secara detail dan rinci tentang hal-hal yang terjadi sejak ratusan tahun lalu. Sebab ingatan AI berbeda dengan manusia. AI mendasarkan ingatannya pada infrastruktur digital (lapisan konteks dan basis data). AI mampu mengingat obrolan zaman dulu walaupun percakapan antar manusia telah usai. Inilah yang membuat AI selalu lebih relevan dan personal dari waktu ke waktu. Bila ditanya tentang sesuatu pendapat, kata Yuval, AI akan mampu memberikan informasi, misalnya: siapa, di mana, kapan, apa pendapat seseorang, dalam kitab apa, apa judul kitabnya, bab berapa, halaman berapa, bahkan pada baris keberapa tersembunyinya pendapat tersebut. AI akan sangat ingat itu semua, sementara penceramah tak akan mampu mengingat sedetail itu. Itu salah satu kelebihan AI, kata Yuval. Bahkan AI terbaru seperti Spiking Brain 1.0 memang sengaja dikembangkan dengan cara meniru cara kerja sistem saraf manusia hidup (SNN/Spiking Neural Network). AI tidak pernah merasa lelah berpikir dan ia mampu menggunakan 100% sumber daya dan data yang ada padanya, sementara manusia sebagai makhluk biologis cepat lelah dan hanya mampu menggunakan sebagian kecil sel neuron. Coba saja sekarang ulik HP Anda! Tanyakan, misalnya, sejarah Imam Bukhari dan siapa nama orang yang pernah menantangnya di masa hidupnya, dan AI akan menjawabnya. Memang orang bilang AI itu “otak kedua”.
Kedua, karena teknologi berkembang terus, saya lalu membayangkan boleh jadi seorang ustaz, penceramah, atau da’i yang sedang membaca ayat atau hadis suatu saat merasa salah atau terlupa sedikit tentang kelanjutan potongan ayat, maka AI akan spontan “bersuara” dan membetulkannya. Hal yang sama boleh juga akan terjadi pada imam yang sedang memimpin salat berjamaah. Imam boleh jadi lupa sambungan ayat yang akan dibacanya dan salah satu makmum (orang yang berdiri di belakang imam) juga tak mampu mengingatkan, lalu AI otomatis akan membantu “berbisik” dari dalam kantong sang imam, membantu mengingatkan sambungan ayat yang harus dibacanya. Ini boleh jadi akan terjadi di masa depan dalam bayangan saya sebagai anak zaman.
Pendeta-pendeta Kristen dan rabi Yahudi juga akan mengalami hal serupa karena kebenaran agama (Kristen dan Yahudi) digali dari dalam kitab tertulis, mengutip Yuval. Dengan kata lain, hafalan paus di Roma pun akan kalah dengan hafalan AI terkait untaian isi ayat Bible. Berbicara tentang hafalan paus, suatu hal yang membuat saya tersenyum ialah ketika Donald Trump baru-baru ini kesal di media sosial dengan pernyataan Paus Leo XIV (Robert Francis Prevost) bahwa paus ini, kata Trump, telah ikut berpolitik: mengkritik urusan perang AS dengan Iran. Trump sempat mengungkit adanya jasa peran Amerika dalam pemilihan paus pada tahun 2025, sementara jawaban paus ialah bahwa dia hanya “preaching the Gospel” (menyebarkan ajaran Bible). Kenapa saya tersenyum? Sebab kuantitas memori Trump dan memori paus tanpa disadari keduanya sebenarnya telah kalah oleh kuantitas memori AI. Pemimpin politik beradu mulut dengan pemimpin rohani: anehnya yang menang adalah teknologi AI. Sebab dalam analisis saya, AI membenarkan slogan hermeneutik oleh Gadamer bahwa apa yang dikatakan (misalnya oleh paus) selalu menyembunyikan lebih banyak apa yang tidak dikatakannya. Kata-kata adalah “gunung es” (muncul sedikit) dari apa yang banyak dibisukan. Nah, Trump kalah.
Ketiga, dakwah di mata saya adalah penjelasan masalah keagamaan oleh seorang da’i. Tetapi di situlah letak persoalannya. Menjelaskan sesuatu kepada orang lain sangat tergantung pada kualitas wawasan ilmu pengetahuan orang yang berdakwah dan ilmu pengetahuan jemaah yang didakwahi. Saya yakin suara da’i yang bersuara lantang berapi-api di langgar/masjid tak akan terdengar sekeras itu bila dia berceramah di depan petinggi negara atau di istana. Suara lantang itu untuk orang-orang… ya kelas kita-kita orang awam ini. Dengan adanya teknologi AI nanti, boleh jadi suara sang penceramah agak pelan nadanya, sebab AI dapat mengoreksinya. Da’i akan lebih berhati-hati untuk mendakwahi jemaah sebab AI dapat dirujuk kapan saja oleh jemaah untuk bertanya, bahkan akan “bersuara” bila audionya diaktifkan. Di sini wawasan penceramah dan wawasan yang diceramahi akan saling beradu kuat. Da’i terpaksa akan semakin memperluas wawasannya bila tidak mau ketinggalan informasi dan kecanggihan teknologi. Misalnya ketika seorang da’i menjelaskan tentang keluarga berencana (KB). Bila da’i masih “ngotot” mengatakan bahwa KB itu pada hakikatnya membunuh manusia, boleh jadi AI nanti akan “bergeming”: kok membunuh manusia? Mana mungkin pertemuan sperma dan ovum dalam beberapa menit langsung bernyawa? Maka akan banyak informasi baru dan kritis sesuai kemajuan ilmu pengetahuan yang akan dihadapi oleh da’i, sebab anak-anak muda sangat piawai menggunakan HP dan mengulik AI. Ini dugaan saya.
Keempat, dakwah di zaman modern sudah biasa disampaikan dengan bahasa Inggris. Khotbah Jumat di masjid kampus UIN Yogyakarta, dan mungkin di masjid-masjid kampus lain, sudah biasa bergantian menggunakan bahasa asing: Arab dan Inggris. Tetapi di beberapa desa, mendengar khutbah dengan bahasa Inggris boleh jadi dicap sudah “kebarat-baratan”, sebab di mata mereka bahasa Inggris adalah bahasa milik orang kafir. Nah, ini persoalan cakrawala, persoalan wawasan umat. Mungkin akan muncul dugaan oleh sebagian orang desa bahwa bila khutbah disampaikan dalam bahasa Inggris tidak akan mendapat pahala di akhirat. Bahasa Arab dikategorikan sebagai bahasa suci. Coba dengar kata-kata Ustaz Somad di YouTube yang menyerukan agar dalam kartu undangan pernikahan jangan ditulis kalimat “Bismillah” dengan huruf Arab, tetapi cukup ditulis dengan huruf Latin. Somad khawatir nanti kertas undangan itu berserakan dan boleh jadi digunakan untuk sesuatu hal yang “merendahkan kesucian ayat”. Tetapi kata AI, “Bismillah” dalam tulisan Arab juga telah lama digunakan dalam bangunan gereja-gereja Kristen di Lebanon, Syria, dan Jordan, bahkan Kristen Koptik di Mesir juga menggunakan bahasa Arab. Bagaimana menurut Anda? Apakah dalam hal ini memori Ustaz Somad kalah dengan memori AI?
Kesimpulan. Dakwah, ceramah agama, kajian agama sebagian besar disandarkan kepada memori ustaz penceramah. Memori (ingatan) itu sekarang diungguli oleh “makhluk baru, pendatang baru” yang bernama AI. Kita boleh ragu dengan kebenaran informasi yang dikatakan oleh AI, tetapi kita mungkin harus mengakui kelebihan kekuatan memori AI dibandingkan memori kita.
Persoalannya kemudian ialah tatkala memori manusia yang terbatas berhadapan dengan memori non-manusia AI, otoritas agama (da’i) meyakini bahwa apa yang keluar dari ceramahnya telah penuh, sesuai dengan nilai-nilai Islami, padahal di balik kata “sesuai” tersebut sebenarnya banyak yang terlupakan karena memang begitulah daya ingat manusia yang terbatas. Mungkin salah satu faktor timbulnya perbedaan mazhab atau aliran Sunni-Syiah, NU, dan Muhammadiyah dapat dilacak juga kepada keterbatasan memori manusia atas khazanah klasik tertulis. Sebab bila memori manusia mirip memori AI yang mampu mengingat hal-hal yang sangat detail, yang tersuruk sekalipun dalam lipatan buku, ensiklopedia, halaman, baris, atau titik mana pun akan mampu diingatnya, maka perbedaan pendapat mungkin akan mudah dijembatani. Ingat, kuantitas informasi memengaruhi kualitas memori.
Kesimpulan di atas juga berimplikasi lebih jauh dalam analisis saya. Dalam dakwah-dakwah agama yang muncul sebatas kemampuan memori manusiawi tersebut sebenarnya telah berperan paradigma-paradigma tertentu yang membentuk cara memahami kebenaran keagamaan oleh si penceramah, ini bila kita kutip pendapat Thomas Kuhn. Artinya, kebenaran keyakinan transendental diobjektivasikan, lalu dijelaskan oleh para da’i dengan paradigma yang telah “nongkrong” dalam kepalanya. Paradigma semacam itu memang tidak dimiliki oleh AI. Tetapi paradigma semacam itu membuat memori penceramah lebih unggul dibandingkan dengan memori AI. Paradigma memang berada dalam kepala da’i dan kemudian ditimbangnya dalam qalbu, sedangkan algoritma deep learning dijumpai dalam AI (misalnya dalam GPT), tetapi sayangnya ia hampa pertimbangan “qalbu”. Bila AI terus melejit maju, lalu sebagai anak zaman saya bertanya: apakah dakwah lisan akan terganggu di masa depan karena “dihantui” oleh AI yang serba tahu? Ustaz, pendeta, dan rabi masa depan siap-siap untuk menghadapinya.
Sekianlah Ibu-ibu/Bapak-bapak dan adik-adik semua, semoga bermanfaat. Terima kasih telah membaca tulisan saya. Baarakallah.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Amhar Rasyid, Jambi. Hikmah: Mungkin akan muncul AI versi Islami.
Tinggalkan Balasan