Assalamu’alaikum wr. wb.
Bapak-bapak/Ibu-ibu dan adik-adik kawula muda generasi bangsa, baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Memang banyak tempat wisata indah di dunia: Grand Canyon di Colorado, Gunung Everest tertinggi di dunia, Hawaii, Bali, Harau di kampung saya Payakumbuh, dan lainnya, tetapi di deretan Bukit Barisan ada pula rupanya suatu dusun unik yang sayang bila Anda tak kunjungi, namanya Desa Jangkat. Jangkat adalah sebuah desa di ujung barat daya Provinsi Jambi, berbatasan dengan Provinsi Bengkulu. Ia adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Tidak cukup rasanya bila suatu saat Anda berwisata ke Jambi bila tidak mengunjungi Desa Jangkat: udaranya dingin, hamparan kaki pegunungan menghijau dan mempesona. Mungkin bagi sebagian penduduk Jambi, nama Jangkat identik dengan “kolot”, “udik” karena ia terletak jauh dari Kota Jambi dan dulu transportasi daratnya antara lain menggunakan kuda beban.
Namun dalam tulisan berikut, bukan wisata alam yang akan lebih utama untuk dibicarakan, tetapi secercah pemikiran yang terpantik dari uniknya alam Jangkat dan relevansinya dengan cara berpikir manusia di alam modern, terutama di bidang keagamaan. Desa alam Jangkat, dalam tulisan ini, hanya sebagai pemantik pemikiran dari mana saya mengajak Anda merenung, berfilsafat sejenak usai Lebaran, meskipun perang Iran melawan Amerika-Israel masih terus berlanjut. Pertanyaannya ialah: apa dan bagaimana indahnya alam Desa Jangkat? Apa yang unik di sana? Dan apa pelajaran yang mungkin bisa ditarik dari diskusi kita dari aspek keagamaan dan budaya? Bahan diskusi saya ambil dari hasil wawancara dengan beberapa putra daerah, wawancara dengan beberapa responden lokal, serta bertanya pada “Mbah” Google.
Pertama, indahnya Desa Jangkat. Wisata alam dan agrowisata. Jangkat adalah desa indah, tersembunyi letaknya, dikelilingi oleh TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat), dengan jarak sekitar 234 km dari Kota Jambi. Banyak tempat menginap seperti homestay dengan tarif kamar sekitar Rp250.000 per malam. Berkendara mobil pribadi dari Bangko (kota di jalan lintas Sumatera antara Jambi dan Jangkat) bisa memakan waktu sekitar dua jam agar sampai di Jangkat. Jalan raya menuju Jangkat dari Kota Bangko pada umumnya sudah diaspal, mulus, dengan hutan sepanjang jalan dan jurang, tidak begitu lebar tetapi banyak tikungan dan tanjakan curam. SPBU utama tidak dijumpai, kecuali penjual minyak Pertalite eceran. Lokasinya aman dari preman, tempat parkir bagus, tarif parkir murah, dan masyarakat lokal ramah-ramah. Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Jambi sudah beberapa kali diadakan di sana, dan telah banyak penduduk asli yang menyelesaikan kesarjanaannya di Kota Jambi. Dikatakan juga bahwa di Muara Madras (ibu kota Kecamatan Jangkat) terdapat sebuah masjid tua yang mana tiang utamanya (satu buah) terbuat dari kayu hutan superbesar; bagian bawah tiang tersebut perlu jangkauan empat orang dewasa yang saling berpegangan tangan untuk melingkarinya. Kata Mahyuzar, dulu untuk menarik kayu tersebut dari hutan dibutuhkan waktu tiga bulan. Ini mungkin mirip orang-orang Mesir kuno membangun piramida. Juga di tempat saya menginap di Desa Danau Pauh, tiang rumah homestay terdiri dari kayu hutan yang pasti tidak akan Anda jumpai di kota-kota besar, namanya kayu asal. Tiang kayu panjang enam meter tanpa sambungan, berukuran 20 x 20 cm. Kata Saudara Mastori (pemilik homestay), harga lokal sekarang satu tiang sekitar Rp1.000.000 diantar ke rumah oleh penjual dari hutan. Bayangkan, katanya, di hutan satu pohon besar untuk kayu tersebut bisa dibagi dan digergaji untuk membangun satu rumah (sekitar delapan sampai sepuluh tiang) dengan panjang enam meter: alangkah besarnya pohon tersebut. Kami di Jambi pun tidak punya akses lagi untuk kayu-kayu hutan bermutu seperti itu. Itulah alam hutan Jangkat.
Mistik juga masih ada. Pernahkah Anda mendengar nama Dusun Serampas? Penduduk desa menyebutnya Serampeh yang terkenal karena katanya dulu di sana tempat khusus yang sangat terisolasi di ujung negeri untuk menuntut berbagai macam ilmu sihir, hingga sangat terkenal sampai ke Sumatera Barat. Seorang putra daerah Jangkat bernama Dr. Mahyuzar Rahman (Dosen UIN Jambi) mengatakan bahwa dulu sekitar tahun 1964 Bung Karno ingin berobat ke Jangkat dengan mengirim utusan yang membawa surat dari beliau di bawah pimpinan seorang komandan bernama Pak Giwang, dan Dr. Mahyuzar mengaku pernah melihat salinan surat tersebut. Dalam dugaan saya, apakah Bung Karno mau berobat ke Serampeh atau menuntut ilmu mistik, atau ilmu penakluk wanita? Entahlah. Sekarang penduduk Desa Serampeh, kata Mahyuzar, sudah semakin maju dan semakin menyadari arti penting pendidikan. Namun sayangnya dari Serampeh belum ada juga jalan raya atau jalan sepeda motor yang menembus ke Provinsi Bengkulu walaupun keduanya sudah dekat berseberangan, sebab dibatasi oleh alam hutan lebat yang masih “angker”.
Kedua, uniknya alam Jangkat. Selain Gunung Masurai, banyak juga terdapat danau-danau kecil seperti Danau Pauh yang berbahaya untuk direnangi sebab kedalamannya bisa mencapai 40–60 meter, kata Mastori. Kemudian ada Danau Kecil, Danau Tinggi, dan Danau Dipati Empat (danau terbesar). Ada air danau yang sangat jernih sehingga tampak jelas ikan-ikan berenang jauh di dalamnya, ada Telaga Biru, dan Air Terjun Sigerincing. Hasil alam utamanya kayu manis, kopi, beras, kentang, dan sayur-mayur. Mungkin Anda tak akan berani mandi sore, apalagi mandi pagi di Jangkat, sebab dinginnya air bak mandi akan membuat jantung di dada Anda gemetaran.
Bagaimana dengan status kepemilikan tanah? Dari hasil wawancara saya dengan pemilik homestay (Mastori), lokasi yang dimilikinya saat ini tidak dibeli tetapi diperuntukkan oleh tetua adat untuk satu perumahan. Bila ada keluarga baru yang ingin mendirikan rumah atau homestay pula, maka tetua adat juga akan mempertimbangkannya. Artinya tanah tidak diperjualbelikan, apalagi dijual kepada nonpenduduk lokal. Masyarakatnya masih sangat komunal. Masyarakat juga belum dikenakan aturan IMB (Izin Mendirikan Bangunan), bahkan belum dikenai PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Saya menduga bila sistem seperti ini berlanjut atas pembagian tanah di sekitar danau (lokasi wisata), maka ia rentan konflik di masa depan. BPN (Badan Pertanahan Nasional) harus segera turun tangan untuk mengaturnya.
Terakhir, apa pelajaran yang bisa dipetik dari cerita Desa Jangkat? Ini yang lebih penting. Sebagai insan akademis, sepatutnya kita bertanya dalam hati: apa beda antara arti “hidup” dan arti “kehidupan”? Hidup, menurut saya, utamanya adalah pemenuhan sandang, pangan, dan papan. Ia masih pada taraf pemenuhan bagian bawah perut dari “udel”. Sementara “kehidupan” lebih bermakna kualitatif dan substansial. Kehidupan menyangkut makna hidup, pengembangan wawasan, pendidikan, cara bergaul yang lebih urban, rasional, membutuhkan olahraga dan hiburan, wisata, medis, kosmetik, belanja, dan organisasi. Jadi arti kehidupan lebih kompleks, lebih bermakna daripada sekadar pemenuhan bagian bawah perut saja.
Kemudian pada pembahasan selanjutnya saya juga berpikir bagaimana sebaiknya cara “menggelitik” kerangka pikir mahasiswa dari pedesaan agar mereka usai kuliah lebih berwawasan dibandingkan dengan penduduk lokal. Dan terakhir, secara religius-filosofis, apa dan bagaimana manusia sebagai subjek membuat diferensiasi dengan realitas? Dalam buku bagus berjudul Seni dan Kondisi Post-Human karangan Prof. Bambang Sugiharto (Yogya: Kanisius, 2024), hlm. 24, yang mengutip filsuf Jacques Derrida, disebutkan bahwa yang memberikan identitas pada manusia sebagai subjek adalah efek dari jejak diferensial, yaitu jejak dari aneka interaksi manusia dengan realitas. Lihat “Speech and Phenomena” dalam Derrida Reader, ed. Peggy Kamuf (New York: Columbia University, 1991), hlm. 26–27.
Nah, ini sulit untuk dijelaskan dari Desa Jangkat. Tadi sudah dijelaskan bahwa ada perbedaan antara arti kata “hidup” dan “kehidupan”. Bila dibahas lebih lanjut, kata “kehidupan” harus dilihat dari perspektif bagaimana manusia memaknai dirinya sebagai subjek. Bila Derrida yang kita pedomani, maka identitas manusia adalah efek dari jejak diferensial. Artinya, untuk masyarakat Jangkat yang masih sistem komunal, nampaknya efek diferensial belum begitu disadari: realitas alam dan diri sebagai subjek masih menyatu. Langgam dan irama alam seolah “membawahi” subjek manusia. Pembagian tanah perumahan oleh para sesepuh adat sebagai otoritas masih “di luar” sistem peraturan pertanahan. Sementara masyarakat perkotaan yang semakin individualis, efek jejak diferensial bagi mereka sudah semakin kentara. Realitas urban telah menyebabkan diferensiasi semakin intens. Banyak individu sudah menyadari konsekuensi hukum atas dirinya, hak-hak individu dalam sistem pertanahan, hak-hak berpolitik yang semakin individualistis dibandingkan dengan masyarakat pedesaan yang umumnya masih paternalistis. Arti hidup sebagai manusia di pedesaan, terutama di Jangkat, masih berfokus pada apa yang disebut Plato dengan epithumetikon (nafsu/hasrat): ia masih banyak berfokus pada “bagian bawah perut”. Dalam studi filsafat Plato diketahui adanya tiga strata sosial: yang paling bawah, yang menengah (thumeidos), dan yang paling atas adalah logistikon (rasio/akal). Yang paling bawah hanya tahu makan, minum, dan seks (bagian perut bawah), sementara yang bagian tengah telah menyadari arti penting harga diri sehingga mau menjadi tentara, bela negara, kesatria. Dan yang paling tinggi adalah mereka yang telah berfilsafat, bijak memikirkan hakikat dirinya; dalam bahasa Derrida: telah menyadari efek jejak diferensial antara dirinya dengan realitas.
Sampai di sini, sebagai kesimpulan dan hikmah yang bisa dipetik, lalu kita bertanya bagaimana sebaiknya sikap dosen dan sikap ulama dalam mendidik mahasiswa dan umat dalam membantu pemerintah bagi peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia)?
Usulan saya: dalam ruangan kuliah, dosen jangan lagi mengindoktrinasi kebenaran sehingga mahasiswa belum diarahkan untuk berpikir mandiri. Dosen sebaiknya bertindak sebagai “penggelitik” cara berpikir mahasiswa, bukan sebagai pemberi doktrin. Sebab ilmu pengetahuan yang diajarkan dosen pada hakikatnya bukanlah kebenaran itu sendiri, tetapi hasil tangkapannya atas kebenaran. Hasil sementara. Besok atau di masa depan, hasil tangkapan si dosen akan berubah lagi, jauh lebih mendalam ilmunya, jauh lebih bijak dalam memberi kuliah. Hasil tangkapan pengetahuan oleh dosen bisa disebut dengan horizon dalam istilah Gadamer, maka sebaiknya horizon dosen didialogkan dengan horizon-horizon mahasiswa sehingga terjadi peleburan keduanya. Dosen diharapkan bertanya kepada mahasiswa: menurut kamu bagaimana? Menurut kamu bagaimana? Pupuk rasa berbeda per individu, pupuk pemahaman yang berbeda antar mahasiswa tentang suatu materi kuliah yang diberikan! Artinya kuliah yang diberikan lebih bersifat “pemantik” cara berpikir mahasiswa, dan mahasiswa harus dibiarkan berpikir kreatif, meskipun pendapatnya berbeda dengan dosen, bahkan berbeda untuk dirinya sendiri dalam fase selanjutnya, agar terwujud apa yang dikatakan oleh Derrida di atas: mahasiswa sebagai subjek akan lebih menyadari dirinya sebagai efek dari jejak diferensial, baik realitas yang ditemui dalam kampus maupun di luar kampus, terutama di kampung halamannya seperti Jangkat. Mahasiswa yang berjumlah katakanlah 40 orang diharapkan akan mampu mendefinisikan dirinya masing-masing, merenungkan materi perkuliahan yang akan berguna bagi peningkatan kualitas berpikirnya, kualitas horizonnya. Singkat kata, dosen adalah orang yang berusaha menggelitik cara berpikir mahasiswa agar meningkat dari kesadaran epithumetikon hingga suatu saat bisa mencapai logistikon. Bila dosen hanya satu orang dalam ruang kuliah, maka dari satu akan menjadi 40 interpretasi yang saling berbeda atas materi kuliah yang sama. Dengan cara kuliah seperti ini, mahasiswa di masa depan akan jaya. Itu kiat kita untuk membangun negara, hasil renungan saya dari Danau Pauh Jangkat.
Dalam sebuah YouTube pernah saya lihat seorang profesor hukum di Harvard mengusir mahasiswinya yang sedang duduk terpisah dari teman-temannya dalam kelas sebelum kuliah dimulai. Sambil menunjuk dengan jarinya, profesor itu bertanya: “Eh you… what is your name? Get out! I say, get out!” katanya. Mahasiswi cantik itu heran. Seisi ruangan menjadi heran pada sikap profesor tersebut. Apa yang salah dengan mahasiswi itu? Kenapa dia tiba-tiba diusir? Lalu sang profesor bertanya pada mahasiswa yang masih ada dalam kelas: kalian lihat saya sudah mengusir seorang teman kelas kalian, kenapa kalian diam saja? Kenapa tak ada yang protes? Apakah itu adil? Kalau begitu apa itu keadilan? tanyanya. Dia membangkitkan cara berpikir mahasiswa rupanya. Mahasiswa diajak berdiskusi, bertukar pikiran, bahkan diajak untuk mengkritik dosen. Sebetulnya bukan menyalahkan dosen, tetapi mempersoalkan pemahaman mahasiswa tentang konsep keadilan. Begitulah kiat salah seorang dosen di Universitas Harvard. Anda, dosen-dosen muda, bagaimana kiat Anda mengajar hukum Islam?
Dari pinggir danau di Jangkat saya juga semakin berkontemplasi: bagaimana sebaiknya sikap umat terhadap isi ceramah agama oleh pemuka agama? Sikap yang saya rekomendasikan untuk umat ialah anggaplah ceramah agama itu seumpama sebuah korek api yang menyala. Penceramah atau khatib atau kiai mengeluarkan korek api dari dalam kantongnya, dihidupkannya, dan menyala. Tetapi umat jangan membakar kambing dengan api korek tersebut; umat harus menjadikan api ustaz sebagai sumber api untuk menyalakan api unggun sendiri hingga membesar, kemudian baru membakar kambingnya. Artinya apa? Anda sebagai umat janganlah mengangguk saja bila mendengar ceramah, menerima totalitas kebenaran yang disampaikan oleh penceramah, tetapi jadikan isi ceramahnya sebagai sumber pemahaman agama Anda untuk lebih ditafsirkan dan dimaknai agar ajaran agama lebih berkualitas dalam kehidupan pribadi Anda. Jadi tafsir isi ceramah agama atau isi khutbah diserahkan pada diri Anda sendiri: bagaimana penafsiran dan pelaksanaannya dalam hidup agar efek jejak diferensial semakin kentara bagi diri Anda sebagai individu. Apa yang terjadi di tengah umat selama ini, dalam penilaian saya, isi ceramah ustaz adalah kalimat final, shirotol mustaqim, umat tak boleh menyimpang darinya. Memang benar begitu, tetapi itu dalam hal akidah, bukan dalam hal muamalah (seluk-beluk duniawi terkait realitas). Setiap mendengar ceramah agama atau khutbah, coba pilah mana aspek akidah dan mana aspek muamalah. Setelah mendengar aspek duniawi, lalu kita buat tafsiran dalam diri: kita tanya diri sendiri, apa yang saya dapat dari ustaz ini? Bagaimana agar ajarannya berguna dalam kehidupan? Jadi bukan isi ceramah sebagai akhir kebenaran, tetapi sebagai awal untuk memikirkan kebenaran. Bila hadirin berjumlah 400 orang, maka satu api ustaz akan menjadi 400 api unggun. Apakah ceramah ustaz itu kebenaran? Ia menyampaikan kebenaran transendental, tetapi penafsirannya adalah kebenaran relatif.
Sebab kebenaran, kata Gadamer, bukanlah benda terpisah dari diri kita, tetapi hasil tangkapan manusia atas kebenaran. Kebenaran bukan relatif, tetapi hasil tangkapannya yang relatif. Maka pemahaman (understanding/verstehen) bukan hanya di kepala, tetapi dalam praktik kehidupan. Maka pemahaman Anda atas Desa Jangkat bukan hanya membaca, tetapi harus mengalami langsung. Begitu pula dalam agama, isi ceramah harus dipraktikkan. Mu’az bin Jabal ketika diutus Nabi ke Yaman diperintahkan berijtihad. Artinya realitas lapangan menjadi ukuran pemahaman. Maka pemahaman itu hidup di lapangan. Di situlah manusia menyadari dirinya sebagai subjek.
Sekian kontemplasi saya dari alam Jangkat yang indah. Hebat Desa Jangkat. Dari Jangkat kita sudahi berfilsafat.
Bapak-bapak/Ibu-ibu dan adik-adik semua, banyak inspirasi dari alam Jangkat. Mudah-mudahan suatu saat Anda sempat berwisata ke sana sekaligus berfilsafat. Itulah sekadar kontemplasi saya, mudah-mudahan Anda tidak pusing membacanya. Saya mengirimkan cerita ini ke dalam HP Anda bukan untuk diikuti, tetapi untuk direnungkan menjadi pemikiran yang lebih baik dari ide saya ini. Terima kasih telah membaca.
Wassalamu’alaikum wr,wb.
Amhar Rasyid, Jambi.
Tinggalkan Balasan