Assalamu’alaikum wr. wb. Bapak-bapak/Ibu-ibu dan adik-adik kawula muda harapan bangsa, baik Muslim maupun non-Muslim di mana saja berada. Sebagaimana diketahui, ada sekurangnya dua organisasi keislaman yang besar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah, masing-masing punya banyak pengikut, salah satu di antaranya mungkin Anda yang sedang membaca tulisan saya ini. Selamat menjadi pengikut organisasi pilihan Anda. Tetapi ada suatu hal yang lebih penting untuk dipikirkan daripada sekadar menjadi anggota organisasi, yaitu kesadaran diri. Sadari dan ketahui posisi Anda dalam organisasi tersebut, mengapa menjadi anggota setia, apa tujuan organisasi Anda, ke mana arah organisasi Anda, apa nilai plusnya menjadi anggota NU atau menjadi anggota Muhammadiyah? Ini perlu dipertanyakan dalam diri Anda, terutama adik-adik generasi muda agar kehidupan beragama di Indonesia lebih maju ke depannya dalam kemandirian. Ini penting!
Tulisan berikut bukan untuk mempromosikan NU atau Muhammadiyah, tetapi lebih kepada usaha menyadarkan warga Indonesia, terutama generasi muda, mempertanyakan apa gunanya menjadi anggota NU atau menjadi anggota Muhammadiyah: jangan ikut-ikutan orang lain tanpa alasan sehingga Indonesia lambat maju dalam kemandirian. Dengan menggunakan pendekatan pragmatis (membebaskan Anda untuk memilih), saya akan mendiskusikan tulisan berikut dari segi ilmu pengetahuan dan filsafat, tetapi setelah tamat membaca ini Anda jangan menjadi semakin bingung. Anda boleh keluar dari organisasi kesayangan Anda: saya yakin Anda tidak akan berdosa di akhirat dan tidak akan diancam dengan hukuman pidana di dunia. Aman kok. Mari kita mulai!
Pertama, sejarah organisasi dan cita-citanya. NU didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1926 di Surabaya, sementara Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta tahun 1912 (lebih awal 14 tahun). Karena Muhammadiyah lebih tua usianya dari NU, maka kita dahulukan menyebutnya untuk selanjutnya. Mahfud MD menyebut Muhammadiyah dan NU ibarat sepasang sandal yang selalu berdampingan dalam melangkah. Tujuan Muhammadiyah ialah ingin agar terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. NU juga ingin menegakkan ajaran Islam menurut Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, toleran, dan seimbang dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi, keduanya ingin agar umat Islam Indonesia khususnya menjadi Muslim yang sejati. Lalu bagaimana dengan tujuan Anda? Apa tujuan Anda menjadi anggota Muhammadiyah atau anggota NU? Apakah Anda ingin menduduki jabatan dalam organisasi tersebut, atau mencari nafkah, atau ingin memajukan organisasi yang Anda cintai, atau ikut-ikutan saja tanpa tahu arah? Kalau Pak Amhar? Saya lebih cenderung… nantilah saya jawab di ujung tulisan ini.
Kedua, secara filosofis Muhammadiyah dan NU pada hakikatnya, menurut saya, ibarat dua kapal besar yang berlayar utamanya di perairan Nusantara, di bawah bendera Merah Putih, “berpagar” Pancasila, sambil menawarkan “menu” makanan ciri khas masing-masing di atas kapal kepada Anda. Apa “menu” kapal Muhammadiyah? Di antaranya Anda ditawari untuk kembali kepada ajaran Islam yang betul-betul murni sebagaimana Rasul saw. dulu pernah mengamalkannya, kata orang Muhammadiyah, dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Contohnya? Nabi tidak selalu membaca qunut dalam salat subuh, maka kita sebaiknya juga tidak selalu. Lalu apa “menu” di atas kapal NU? Anda ditawari, antara lain, untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh ulama-ulama klasik karena mereka pantas, menurut ulama NU, untuk menjadi panutan kita. Contohnya? Ulama klasik ada yang membolehkan meminta doa untuk orang yang telah meninggal, tetapi dengan cara meminta bantuan ulama atau kiai sebagai perantara (ini namanya tawassul). Pilihan Pak Amhar? No comment.
Ketiga, bila difilsafati lebih dalam, Anda menjadi warga Muhammadiyah atau warga NU boleh jadi karena mengikuti orang tua, atau terlahir di lingkungan yang kental dengan organisasi tersebut, atau ingin mencari jabatan/kursi, atau ingin mengabdikan diri untuk kejayaan organisasi tersebut. Perlu diketahui bahwa KH Ahmad Dahlan dulu berpesan kepada warga Muhammadiyah: “Hidup-hiduplah dengan Muhammadiyah, tetapi jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah.” Artinya, jangan dijadikan Muhammadiyah hanya sebagai “sapi perah” untuk diambil manfaatnya saja. Di sisi lain, bila naik “kapal” Muhammadiyah, Anda tidak boleh berpolitik praktis di atasnya. Bila ingin aktif berpolitik praktis, silakan atas nama pribadi di luar organisasi, asalkan jangan membawa nama Muhammadiyah. Contoh: Amin Rais. Bagaimana kalau di atas “kapal” NU? Boleh berpolitik praktis, boleh membawa nama NU untuk berjuang secara politis di panggung politik nasional. Contohnya? Muhaimin Iskandar. Apakah kader Muhammadiyah tidak berambisi menduduki posisi penting dalam negara, seperti menjadi gubernur, menteri, bahkan presiden? Tentu saja berambisi, itu sifat manusiawi. Bagi NU, posisi-posisi penting semacam itu sangat diincar agar kehidupan politik bisa lebih dikuasai, katanya. Maka banyak kader NU aktif menjadi menteri, dirjen, gubernur, dan bupati, bahkan kursi rektor UIN pun diperebutkan. Maka sangat beruntung NU bila Menteri Agama dari kalangan NU. Apakah orang Muhammadiyah “iri” dengan banyaknya jabatan politis yang dipegang oleh kader NU? No comment.
Keempat, lalu bagaimana bila direnungkan secara filosofis tentang posisi diri Anda? Sebetulnya Anda adalah orang bebas. Tak ada keharusan untuk mengikuti Muhammadiyah atau ikut NU, Anda bebas menentukan diri Anda. Nabi Muhammad saw. juga dulu tidak ikut Muhammadiyah dan tidak pula NU. Lalu kenapa sebagian Anda fanatik sangat dengan Muhammadiyah atau dengan NU, seakan-akan ajaran agama dalam organisasi tersebut sudah mutlak benar. Sikap semacam itu perlu dipertanyakan. Anak muda harus bisa membedakan antara Islam normatif dan Islam institusional. Islam normatif itu utamanya terdapat dalam Al-Qur’an secara qath’i, sementara Islam institusional adalah Islam yang telah melembaga, punya pengurus, dan punya ideologi. Ajaran keislaman dalam institusi dapat diibaratkan dengan “menu-menu” yang ada di atas kapal Muhammadiyah dan NU. Contoh, di dalam Muhammadiyah dikenal sebuah kitab berjudul Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (HPT) yang berisi berbagai ajaran (menu) Muhammadiyah tentang akidah, ibadah, dan muamalah. Kitab itu biasa disebut sebagai kitab fikih Muhammadiyah. Namun sayangnya, ada saja warga Muhammadiyah yang sampai meyakini bahwa semua ajaran dalam kitab HPT itu sudah mutlak benar: selain itu dianggap salah. Seharusnya jangan bersikap seperti itu. HPT adalah hasil ijtihad para ulama Muhammadiyah dalam batas-batas kemampuannya dalam kurun waktu dan tempat tertentu, maka tentu saja ada sisi lemahnya. Ajaran-ajaran tersebut kemudian melembaga/terinstitusi. Ini yang saya sebut dengan Islam institusional. Lalu apa kitab fikih NU? NU berpegang kepada ajaran fikih empat mazhab: Malikiyah, Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Jadi pegangannya luas, tetapi metode utamanya tidak langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang tertulis, melainkan kepada pendapat-pendapat ulama klasik dalam sejarah Islam sebagai panutan, dan akhirnya ajaran Islam ala NU juga melembaga. Itulah Islam institusional NU. Ia punya pengurus, punya khiththah, punya Banser, dan lain-lain. Hingga di sini kita perlu semakin merenung tentang kedua Islam institusional ini, sebab mayoritas umat Islam Indonesia tidak menyadari bahwa mereka “terkurung” dalam Islam institusional. Ibarat terkurung dalam rumah tetapi tidak berani keluar sejenak. Kata penyair W.S. Rendra: “Cobalah sekali-sekali Anda keluar rumah, lalu lihat rumah Anda tersebut, niscaya bolong-bolongnya akan kelihatan.” Artinya, kelemahan organisasi Anda akan terlihat bila Anda “keluar sebentar”.
Ayo merenung lebih dalam, lebih filosofis! Kita perlu mengulangi pertanyaan mendasar: bagaimana caranya agar umat Islam Indonesia semakin maju dalam berpikir keagamaan? Sadarilah bahwa Anda terlahir ke bumi Indonesia ini sebagai orang yang bebas. Tetapi setelah Anda tumbuh dewasa, berbagai “ikatan” terasa membelenggu, terutama ikatan Islam institusional. Anda merasa takut bila tidak ikut Muhammadiyah atau tidak ikut NU. Bila datang bulan Ramadan dan ditanya orang kapan mulai puasa, Anda berdalih menjawabnya: menunggu pengumuman dari pemerintah. Pada hakikatnya Anda bukan ikut pemerintah, tetapi ikut NU sebab Menteri Agama saat ini dari NU. Artinya, ibadah puasa Ramadan Anda, khususnya tahun ini, telah dipengaruhi oleh politik. Di dalam politik terdapat kekuasaan, dan dalam kekuasaan ada “vested interest”. Katanya NU menetapkan awal puasa setelah melihat hilal. Ya, tetapi mereka melihat hilal sejauh daya tangkap pandangan mata ulama mereka. Apakah yang dilihat itu betul-betul hakikat hilal? Dalam filsafat dikatakan bahwa apa yang kita lihat selalu dipengaruhi oleh cahaya. Misalnya langit kelihatan biru. Ia sebenarnya bukanlah biru, tetapi batas pandangan kita yang membuat ia berwarna biru karena pengaruh cahaya dan udara yang menjadi perantara antara mata kita dan objek yang dilihat. Tidak yakin? Ini buktinya. Suatu kali saya dari arah Bukittinggi melihat Danau Maninjau dari ketinggian sekitar 10 km di kawasan Kelok 44 di Sumatera Barat. Danaunya terlihat biru, cantik, menawan. Rupanya setelah setengah jam mengemudi, saya sampai di pinggir danau tersebut, ternyata warna airnya biasa saja, ada yang keruh, sampah dan daun banyak menumpuk di pinggir danau, bahkan ada yang kotor berlumpur, tidak seindah ketika dipandang dari kejauhan. Artinya, pandangan dari jarak jauh atas suatu objek fisik itu kurang objektif dan perlu dipertanyakan akurasinya.
Terlepas dari bukti empiris semacam itu, memang ada hadis Nabi yang menyuruh shumu li ru’yatihi wa afthiru li ru’yatihi (mulailah kamu berpuasa bila telah melihatnya (hilal) dan berbukalah bila telah melihatnya). Ya, benar hadis itu. Itu hadis Nabi yang diikuti oleh NU, tetapi tidak diikuti oleh Muhammadiyah. Kenapa? Mari kita diskusikan secara filosofis dengan membuat perumpamaan yang logis dan empiris. Anggaplah Nabi ibarat seorang ibu yang berkata pada anaknya (NU): “Hati-hati di jalan raya, banyak kendaraan, harap berjalan tetap di sebelah kiri ya, Nak!” NU patuh dan mengikuti kata-kata ibu tersebut: ia selalu berjalan di sebelah kiri. Tetapi anak ibu yang bernama si Muhammadiyah bukan tidak patuh pada ibu, tetapi dia tahu bahwa Google lebih bisa diandalkan dalam perjalanan untuk memberi petunjuk karena ia adalah hasil teknologi canggih yang dapat menuntun arah. Dalam hal ini, Muhammadiyah lalu lebih mengikuti petunjuk Google daripada kata-kata ibu yang jauh darinya. Itulah perumpamaannya: NU selalu patuh dengan Nabi dengan cara melihat hilal, sementara Muhammadiyah mengandalkan hisab dengan bantuan teknologi modern dan canggih. Maka terbelahlah umat Islam ketika hendak memulai awal puasa Ramadan, karena apa? Bukan karena Islam normatif, tetapi karena Islam institusi. Nah, sekarang terserah pilihan Anda: apakah akan tetap ikut kata-kata ibu seperti NU atau memakai Google seperti Muhammadiyah. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, akan lebih bijak bila bukan hasil kebenaran suatu pendapat yang Anda pegang erat, tetapi bagaimana cara orang sampai pada suatu kebenaran tersebut, itu yang lebih penting. Caranya. Metodenya. Bila caranya yang kita pahami, maka dampak pikiran orang akan luar biasa terhadap cara berpikir kita. Orang awam melihat kepada hasil, sedangkan Anda sebagai sarjana harus melihat kepada cara. Dalam cara terdapat kerangka pikir. Contohlah Iran. Iran setelah menembak pesawat canggih F-15 milik Amerika lalu membawa rongsokan pesawat itu ke dalam laboratorium. Untuk apa? Untuk mengintip kerangka pikir yang ada dalam rongsokan pesawat tersebut. Kerangka pikir itulah yang dipelajari dan dikuasai. Ini yang jauh lebih penting.
Apakah ada tokoh-tokoh yang tidak ikut aktif di Muhammadiyah dan NU? Ada banyak. Prof. Quraish Shihab tidak jelas apakah beliau Muhammadiyah atau NU. Aa Gym juga demikian, cenderung netral. Prof. Harun Nasution di masa hidupnya juga seorang intelektual Muslim yang bebas. Juga almarhum Prof. Minhaji (mantan Rektor UIN Yogyakarta). Dari beberapa contoh di atas tampak bahwa semakin intelektual seseorang, semakin inklusif cara berpikirnya. Mereka tidak terkurung dalam satu organisasi tertentu dan tidak ingin menduduki jabatan dalam organisasi keislaman. Apakah karena luasnya cakrawala berpikir membuat kita semakin netral? Boleh jadi iya. Sebab semakin luas ilmu, semakin tampak plus-minus hidup dalam organisasi. Ibarat berlayar, filsafat dan kedalaman ilmu pengetahuan akan membantu Anda melihat lebih jauh ke seberang lautan, sementara mayoritas kita hanya menumpang kapal, makan, minum, tidur, dan… mati… di dalam kapal. Itulah perumpamaan kehidupan kita dalam berorganisasi keagamaan. Dalam konsep filsafat Heidegger, sikap kebanyakan kita masih pada taraf das Man (orang awam), belum mencapai level das Sein (manusia sejati). Anda pilih posisi yang mana?
Menurut Clifford Geertz, ibarat sarang burung di atas pohon, di mana burung bertelur, menetas, beranak, bercucu, masyarakat pun demikian, ia membuat organisasi, norma, dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Anehnya, setelah dewasa banyak anak cucu merasa sungkan bila hendak keluar dari “sarang” tersebut. Mereka tidak berani, takut kualat. Anda tentu bukan tipe seperti itu, bukan? Renungkanlah! Maka jangan lagi ikut-ikutan dalam berpikir dan bersikap, apalagi Anda sudah menjadi sarjana. Tundukkan kepala, pegang dada, lalu… loncat! Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘ala Allah (Q.S. Ali Imran: 159). Sekianlah Bapak-bapak/Ibu-ibu dan adik-adik semuanya. Terima kasih telah membaca tulisan saya, jangan marah ya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Amhar Rasyid, Madiun-Yogyakarta.
Tinggalkan Balasan