Kategori: Opini
-
Agama dan Gender dalam Dialog: Dari Tafsir Menuju Empati
Agama dan gender merupakan dua aspek penting dalam kehidupan manusia yang seringkali saling bersinggungan. Agama hadir sebagai pedoman hidup, menawarkan makna, nilai, dan aturan moral yang dianggap sakral. Sementara itu, gender tidak hanya merujuk pada jenis kelamin biologis, tapi juga mencakup identitas, peran sosial, dan harapan budaya yang melekat pada seseorang berdasarkan persepsi masyarakat. Ketika…
-
Kebenaran Tersingkap
“Cahaya bisa menyingkap, matahati bisa memberi penilaian, serta hati bisa menghadap dan membelakangi.” – Ibnu ‘Athaillah Kata-kata bijak dari Ibnu ‘Athaillah di atas menyiratkan bahwa hati adalah poros utama dalam merespons cahaya kebenaran. Ia dapat jernih dan lapang, tapi juga bisa keruh dan sempit. Kebenaran sejatinya telah tampak bagi hati yang mau membuka diri, tetapi…
-
Kenalilah Diri Sendiri dan Orang Lain
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”– Pepatah sufi Kata-kata tersebut mengandung makna mendalam bahwa pengenalan terhadap diri sendiri merupakan gerbang utama menuju kebijaksanaan hidup. Dalam proses mengenali diri, kita belajar memahami batas dan potensi, kelemahan dan kekuatan. Dan hanya dengan memahami diri, kita akan lebih bijak dalam memahami orang lain dan menapaki…
-
Brain Rot dan Matinya Nalar di Era Digital
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “Brain Rot” mulai ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan anak muda pengguna media sosial. Fenomena ini merujuk pada kondisi mental di mana seseorang merasa kehilangan fokus, motivasi, dan daya pikir kritis akibat konsumsi konten digital yang dangkal, berulang, dan adiktif. Seringkali, hal ini dikaitkan dengan terlalu seringnya mengakses platform seperti TikTok,…
-
Ulama sebagai Penyeimbang Kekuasaan: Suara Moral dalam Politik Publik
Dalam sejarah bangsa Indonesia, ulama tidak hanya dikenal sebagai pemuka agama, tetapi juga sebagai penjaga moral publik dan penggerak perubahan sosial. Peran ini terlihat jelas sejak masa kolonial, ketika para ulama turut memimpin perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Dalam konteks kontemporer, meskipun sistem kekuasaan sudah dibingkai oleh demokrasi, suara ulama tetap dibutuhkan sebagai penyeimbang yang…