Amien Rais dan Hermeneutika

Assalamu’alaikum wr. wb.

Yang terhormat Bapak-bapak/Ibu-ibu dan adik-adik kawula muda, baik Muslim maupun non-Muslim, di mana saja berada. Semoga kita sehat-sehat selalu. Telah banyak beredar beberapa waktu yang lalu berita mengejutkan di medsos tentang “cerita aneh di Istana”. Katanya ada hubungan sangat pribadi antara Presiden dengan Sekretaris Kabinet (laki-laki) hingga ada yang menjulukinya “Ibu Negara”. Entah seberapa akurat kebenarannya, saya juga tidak tahu pasti, tetapi Komdigi dikatakan telah menghapusnya dari medsos. Sekurangnya, berita tersebut jelas diutarakan dengan gamblang oleh seorang tokoh politisi senior, mantan Ketua MPR/Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais. Dalam tulisan berikut, sebagai dosen, saya tidak akan terlalu membahas persoalan tersebut, tetapi akan lebih fokus pada aspek hermeneutika. Di dalam berita yang beredar tersebut kita perlu mempertanyakan: apa makna dari ucapan Amien Rais tersebut, mengapa dia mengutarakannya, dan apa pelajaran yang bisa dipetik, khususnya bila diskusi ini ditarik kepada teks keagamaan? Ini saya tujukan terutama untuk adik-adik kawula muda, bukan untuk menggosipkan aib orang, tetapi untuk meluaskan cakrawala berpikir yang lebih filosofis.

Apa kata Amien Rais? Dalam kanal YouTube pribadinya tanggal 30 April 2026, Amien Rais mengutip perkataan orang bahwa hubungan antara Presiden dan Seskab-nya, Teddy, telah “offside”. Bukan hanya akrab dalam tugas kepresidenan dan kesekretariatan kabinet, tetapi telah menjalar kepada hubungan pribadi. Amien Rais katanya merasa ikut malu. Bahkan Amien Rais juga mengutip opini masyarakat yang mengatakan bahwa Teddy seorang “gay” (menyukai sesama lelaki, mirip kaum Nabi Luth). Bahkan Prof. Amien Rais juga mengutip Titiek Prabowo dalam nyanyinya: Cinta Segitiga. Kutipan liriknya begini: “Engkau tinggalkan aku demi laki-laki bernama Teddy.” Ada juga kelakar di tengah publik, kata Amien Rais, yang menyebut “Bunda Ted”. Permintaan Amien Rais jelas dan spontan: jauhkan Teddy oleh Presiden Prabowo, berikan dia jabatan yang layak pada tempat yang lain. Fokuslah Presiden bekerja untuk bangsa dan negara. Dan Amien Rais menolak videonya dihapus oleh Komdigi, bahkan mengatakan bahwa Komdigi tak berhak melaporkannya, tetapi si Teddy sendiri yang berhak melaporkan. Nanti, Amien Rais katanya akan meminta beberapa dokter spesialis untuk menguji kondisi Teddy apakah dia betul-betul gay atau bukan. Apa dalih Amien Rais membeberkan berita ini? Demokrasi akan berjalan baik bila kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang, tidak dibatasi, dan tidak diberangus. Menkomdigi Meutya Hafid mengatakan kepada media massa bahwa mereka terpaksa melakukan take down kasus ini. Sesuai kewenangan dalam UU ITE, disinyalir ada hoaks, ujaran kebencian, dan pembunuhan karakter, kata Meutya. Di pihak lain, Ketua Partai Ummat Ridho Rahmadi mengatakan bahwa Amien Rais hanya menyampaikan kegelisahannya, kegelisahan masyarakat, karena kecintaannya kepada teman lamanya, Prabowo. Bila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan, kata Ridho, silakan menempuh jalur hukum. Terlepas dari hiruk-pikuk berita tersebut, sekarang mari kita belajar filsafat.

Dalam buku Gadamer yang terkenal, Truth and Method, disebutkan bahwa “apa yang dikatakan orang jauh lebih sedikit jumlahnya daripada apa yang tidak dikatakannya”. Demikian pula, apa yang ditulis orang jauh lebih sedikit jumlahnya daripada apa yang tidak dituliskannya. Lebih jauh, dalam buku berjudul Gadamer terjemahan Ahmad Sahidah (hlm. 219) yang ditulis oleh Georgia Warnke disebutkan bahwa dalam penggabungan horizon ada dua pengertian: 1. Kita memahami objek dari sudut pandang asumsi dan situasi kita, dan 2. Perspektif akhir kita mencerminkan pendidikan yang kita terima melalui pertemuan kita dengan objek. Membicarakan kasus Teddy, bila didalami secara hermeneutis, akan menggabungkan horizon Amien Rais dan horizon kita. Ini poin kita. Saya suka membahas ini, dan dari sini diskusi kita akan berlanjut.

Jadi secara filosofis, mengutip Gadamer, apa yang dikatakan oleh Amien Rais sebetulnya masih menyimpan apa-apa yang tidak dikatakannya. Boleh jadi Amien Rais masih mempunyai banyak pertimbangan untuk tidak atau belum mengatakannya, belum membeberkan semuanya. Boleh jadi ada pertimbangan moral/agama, pertimbangan politis, dan pertimbangan hukum. Dalam Islam, kita disuruh untuk menutup aib orang lain, tetapi banyak informasi “bisik-bisik” dari beberapa tokoh masyarakat membuat Amien Rais yakin untuk mengatakannya kepada publik. Bahkan Sri Bintang Pamungkas mengatakan dia sudah lebih dahulu tahu dua atau tiga tahun sebelum Amien Rais tentang berita seksual menyimpang tersebut dari beberapa petinggi militer, katanya. Pertanyaannya bagi saya, kalau memang lebih dahulu tahu, kenapa Pamungkas tak berani bicara di depan publik seperti beraninya Amien Rais? Amien Rais tahu moral, tahu ajaran Islam, tetapi dia juga punya pertimbangan kemaslahatan bangsa. Dia berani bicara lantang di depan umum saat orang lain masih berpikir-pikir, termasuk Sri Bintang Pamungkas. Tepuk dada sendiri oleh Pamungkas setelah orang lain mendobrak duluan, saya kira itu “pahlawan kesiangan”. Bangsa Indonesia beruntung punya orang seperti Amien Rais. Seandainya beliau telah wafat, adakah tokoh calon pengganti yang berani dan vokal? Secara politis, boleh jadi Amien Rais punya pertimbangan strategis untuk mendongkrak Partai Ummat guna menyongsong Pemilu 2029 nanti, who knows. Maka kita sebagai anak muda jangan buru-buru menyalahkan, membela, atau mengadili Amien Rais. Boleh jadi antara Amien Rais dan Prabowo nanti akan memainkan kartu kesepakatan bersama dua partai, who knows? Banyak hal tak terduga bisa terjadi dalam dunia politik. Secara hukum, Komdigi akan menuntut Amien Rais ke meja hijau, katanya, tetapi Amien Rais malah berkilah bahwa yang berhak menuntutnya secara hukum bukan Komdigi, melainkan pribadi Teddy sebagai objek yang merasa dirugikan. Akan tetapi, kenapa nampaknya Teddy hingga kini diam saja? Statement Amien Rais ini mungkin sudah didiskusikan sebelumnya, sudah dipertimbangkan secara masak-masak dengan banyak ahli hukum yang piawai dalam dunia peradilan, yang telah mengkaji risiko dan langkah-langkah hukum ke depan. Ibarat membangun rumah, Amien Rais telah mempersiapkan dan membangun sendi/fondasi beton, tiang besi, dan anyaman rangka baja sebelum “bendera dikibarkan” di atas atap rumah yang sedang dibangun. Belajar dari Amien Rais.

Lebih jauh, hermeneutika mengajarkan bahwa apa-apa yang ditulis sebenarnya masih menyembunyikan banyak kebenaran yang belum dituliskan. Artinya, apa-apa yang ditulis dalam medsos, koran, dan majalah sebetulnya masih menyembunyikan banyak kebenaran. Medsos tak berani atau tak mau menuliskan hal-hal yang masih samar tetapi diyakini benar adanya. Koran dan majalah masih merasa takut mengulas berita tersebut, tetapi pada data yang didapat di lapangan memang banyak kebenaran yang mendukung ucapan Amien Rais. Maka demi pertimbangan hukum dan politik, koran, majalah, serta medsos tetap berhati-hati untuk tidak atau belum memberitakannya. Jadi apa-apa yang ditulis masih bagaikan puncak “gunung es”: ujungnya kelihatan di permukaan laut, tetapi bagian dasarnya dahsyat luar biasa dan belum terungkap. Maka pengetahuan kita tentang kasus Teddy di atas jelas lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan pengetahuan Amien Rais yang profesor dan tokoh nasional. Di dalam kepala Amien Rais, secara hermeneutis, masih tersimpan segudang informasi yang mungkin belum saatnya dipublikasikan kepada umum atau berita tersebut sengaja “disimpan” untuk memainkan kartu “As” nanti menjelang Pemilu, who knows.

Sekarang saatnya diskusi hermeneutis kita tarik ke bidang teks keagamaan. Lupakan “omon-omon” Amien Rais tentang Teddy. Bila Anda menulis skripsi, tesis, atau disertasi, sebenarnya kebenaran yang berhasil Anda tuliskan hanyalah sedikit. Skripsi, tesis, atau disertasi adalah cerminan hasil penelitian Anda sejauh terjangkau oleh wawasan Anda. Dan di balik tulisan Anda jelas tersembunyi kerangka pikir yang masih terbelenggu oleh paradigma tertentu. Memikirkan kerangka pikir dalam paradigma tertentu adalah persoalan hermeneutis yang sangat mendalam: ia berlapis-lapis. Pada hakikatnya, masih banyak di luar sana kebenaran yang masih terkubur, yang belum sempat Anda ungkapkan dalam skripsi, tesis, atau disertasi Anda. Sebab saya pernah mendiskusikan tesis S-2 saya di McGill, Kanada, dengan seorang profesor ternama, Issa J. Boullata, di dalam kamar kerjanya. Saya bilang bahwa saya telah yakin mendapatkan kebenaran dengan mengumpulkan semua informasi terkait penelitian saya. Dia bilang: “No, no, Amhar… that’s not all… that’s not all,” sambil menggerakkan jari telunjuknya. Saya terkejut, “Why not?” Dia bilang dengan bahasa Inggris gaya Palestinanya: “Kebenaran itu tak akan mampu diungkapkan oleh manusia seutuhnya. Masih banyak yang tersembunyi di balik yang tertulis, di balik yang dikatakan, dan di balik yang didiamkan.” Demikian pula sekarang tiba saatnya kasus yang dibicarakan oleh Amien Rais. Sebagai insan akademis, kita mungkin perlu mempertanyakan: seberapa banyak informasi yang didapatkan oleh Amien Rais dari berbagai sumber? Seberapa akurat data yang dia miliki? Kerangka berpikir macam apa yang sedang dimainkan oleh Amien Rais? Dalam paradigma apa kerangka pikir semacam itu operasional dalam budaya politik Indonesia? Konsekuensi dan langkah-langkah hukum apa yang akan ditempuhnya bila dia diseret ke meja hijau? Seberapa beraninya Amien Rais mengorbankan nyawanya seandainya ada yang “nekat” menembaknya? Hitung-hitungan dan pertimbangan seperti ini hanya ada dalam “kepala” Amien Rais: ia masih belum atau tidak diungkapkan ke publik. Ini persoalan hermeneutis.

Kalau begitu, dalam hati saya, bagaimana dengan kebenaran dalam Al-Qur’an? Dalam hadis? Banyak ulama mengatakan Al-Qur’an sudah mencakup semuanya. Tetapi banyak pula ulama mengatakan bahwa al-nushush mutanahiyah (ayat-ayat itu terbatas jumlahnya). Maka dikatakan ada waqa’i ghairu mutanahiyah (persoalan tanpa batas). Ini bukan berarti Al-Qur’an tidak sempurna, tetapi ia sempurna dalam garis-garis besarnya, sementara detailnya masih banyak yang belum disebutkan sehingga diperlukan ijtihad. Implisit di sini bahwa alam terkembang ini adalah ayat-ayat Allah meskipun ia tak tertulis secara harfiyah/qath’iyah dalam Al-Qur’an. Demikian pula hadis Nabi. Kutubus Sittah yang memuat beribu-ribu hadis tentunya masih belum mencakup semua hadis Nabi yang secara de facto tertulis. Apa contohnya? Dalam berwudu kita pernah mendengar hadis: Law la an asyuqqa ‘ala ummati la amartuhum bis siwaqi ‘inda kulli shalah (Seandainya tidak akan memberatkan bagi umatku, kata Nabi, niscaya akan aku suruh mereka bersiwak setiap kali akan menunaikan salat). Artinya, Nabi masih mendiamkan perintah untuk menggosok gigi bagi umat setiap kali akan berwudu. Diam, tetapi penuh makna. Maka yang benar dalam hati Nabi, yang tidak diucapkan, yang didiamkan, adalah seruan untuk menggosok gigi setiap kali berwudu, tetapi ada pertimbangan lain oleh Nabi untuk tidak mengatakannya, dan kita disuruh arif tentang hal tersebut. Ini secara hermeneutis menunjuk pada pernyataan Gadamer di atas bahwa apa-apa yang dikatakan sebenarnya masih menyimpan apa-apa yang tak atau belum dikatakan. Bila Al-Qur’an dan hadis masih menyimpan banyak kebenaran yang terpendam, bagaimana dengan Injil dan kitab suci yang lain? Ceritanya sama saja: masih banyak kebenaran yang belum atau tak dituliskan dalam Bible, dalam Taurat, dan dalam Zabur. Percaya atau tidak, marilah kita pikirkan dalam-dalam secara hermeneutis. Anda pembaca non-Muslim juga patut mempertanyakan “kelengkapan” isi kitab suci Anda.

Demikianlah diskusi kita Jumat ini, Bapak-bapak/Ibu-ibu dan adik-adik sekalian. Maaf, cerita Amien Rais tentang Seskab Teddy sengaja saya tarik ke filsafat sebab di sini ada urgensinya bagi kita yang bergelut di bidang ilmu pengetahuan daripada bidang politik praktis. Akan lebih bijak bila kita wait and see daripada ikut-ikutan berkomentar di medsos. Sebab cara kita melihat persoalan tersebut jelas akan berbeda dengan cara Amien Rais melihatnya. Dia dikelilingi oleh para tokoh politik nasional, cendekiawan, ulama, pakar-pakar hukum, dan akademisi yang membuat wawasannya luas, sementara kita berkomentar dalam kesendirian, apalagi dari dalam kamar kos. Objek persoalannya sama, tetapi cara melihat persoalannya berbeda. Dari cerita Amien Rais ternyata ada kaitannya dengan hermeneutika. Mengulangi kata Warnke di atas: “Perspektif akhir kita mencerminkan pendidikan yang kita terima melalui pertemuan kita dengan objek.” Sekian. Terima kasih telah membaca tulisan saya, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum wr. wb
Amhar Rasyid, Jambi.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *