Assalamu’alaikum wr. wb.
Bapak-bapak/Ibu-ibu/Adik-adik muda, baik Muslim maupun non-Muslim, di mana saja berada. Semoga kita semua sehat-sehat saja dan bahagia dalam hidup. Bilamana kita hanya punya HP dan laptop, rupanya kita masih ketinggalan canggih, apalagi belum tahu perusahaan apa yang menggerakkan operasional HP dan laptop kita tersebut. Saya baru tahu bahwa ada sekurangnya lima perusahaan teknologi raksasa dunia yang sekarang beroperasi, menguasai, merajai, dan mengelola media sosial (medsos), yaitu: 1. Google, 2. Nvidia, 3. Meta, 4. Microsoft, dan 5. Amazon. Saya bukan ahli teknologi dan mengaku lemah dalam penguasaan istilah-istilah komputerisasi, namun saya ingin menyumbang sedikit kepada para pembaca setia yang belum tahu banyak tentang teknologi komunikasi. Izinkan saya membicarakannya dan tolong dikoreksi bila salah. Pembahasan berikut saya batasi hanya pada Amazon dan Nvidia. Tulisan ini ditujukan khususnya untuk para da’i senior dan yunior yang sering, pada saat berceramah dan berdakwah Islam, “menyenggol” dunia medsos, tetapi mungkin kurang memahami “pemain utama” yang ada “di belakang layar” medsos, dan apa pelajaran yang mungkin bisa dipetik bila dipikirkan secara filosofis. Bahasan ini saya kira juga penting bagi kita semua untuk diketahui dan dipikirkan, apalagi untuk adik-adik dosen agama umumnya serta para santri yang pesantrennya saya lihat dibangun terisolasi jauh di dalam hutan. Mari kita mulai!
Pertama, Amazon. Amazon adalah perusahaan teknologi berskala dunia yang bergerak, di antaranya, di bidang e-commerce (perdagangan berbasis elektronik/toko online) dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Ia didirikan pada tanggal 5 Juli 1994 oleh Jeff Bezos di Washington, Amerika Serikat. Dengan toko online, Amazon menjual bermacam-macam produk seperti alat elektronik, kebutuhan sehari-hari, dan fashion (busana). Amazon terkenal sebagai toko online tanpa kasir. Apa produk Amazon? Perusahaan ini memproduksi barang-barang seperti Echo, Fire Tablet, Fire TV, dan Kindle. Echo adalah lini pengeras suara pintar dan perangkat asisten virtual dengan menggunakan perintah suara berbasis cloud melalui asisten Kecerdasan Buatan. Di antara produk Echo ini dinamai Alexa. Contoh kegunaan Alexa, misalnya bilamana Anda jauh dari rumah, sedang ke luar kota dan rumah kosong, Anda tak usah cemas, tetapi cukup mengatakan lewat HP dari kejauhan: “Alexa, hidupkan lampu, hari sudah sore!”, maka lampu rumah Anda akan menyala. Atau Anda memerintahkan: “Alexa, beri makan anjing dan kucing!”, dan langsung Alexa akan menunaikan tugas tuannya, maka hewan piaraan Anda tak akan mati kelaparan saat Anda jauh. Atau ibu-ibu yang akan menyuruh Alexa untuk memberi makan bayi yang ditinggal sendirian di rumah sementara ibunya sedang bekerja di kantor atau berbelanja/shopping. Mungkin yang belum bisa Alexa lakukan ialah bilamana Anda perintahkan: “Alexa, salatkan saya kalau saya sudah mati.” Sekali lagi, Alexa adalah salah satu produk perusahaan Amazon. Canggih, bukan?
Produk Amazon lain bernama Kindle. Ini adalah buku elektronik. Ia mirip laptop, tetapi tidak mempunyai keyboard untuk mengetik. Ya, mirip “batu tulis” kami di zaman Sekolah Dasar tahun 1960-an dulu. Namun, dengan Kindle ini kita bisa memilih ribuan judul buku di seluruh dunia dan membacanya hingga tanpa disadari minuman kopi kita sudah kering di gelas. Dengan memiliki Kindle di tangan, kita akan bisa menjelajahi, membeli, mengunduh, membaca buku elektronik, membaca majalah tanpa kertas, dan mendengar buku-buku audio (cukup mendengar saja), umumnya buku-buku berbahasa Inggris. Singkat kata, Kindle itu adalah BUKU, tetapi tintanya elektronik, tahan matahari, bisa dibaca di ruang gelap, berbeda dengan membaca di layar HP. “Kertasnya” putih, tetapi tidak silau di mata, bisa dibawa ke mana-mana dalam tas. Maka, ribuan judul buku di dunia sekarang ada di tangan Anda dan tak perlu pergi ke perpustakaan. Kuncinya? Kuasai bahasa Inggris! Saya yakin banyak di antara Anda sudah mengenal Kindle. Adapun tentang Fire Tablet dan Fire TV, agar tulisan ini tidak terlalu panjang, silakan Anda baca sendiri di Google.
Jumlah pelanggan Amazon, kata Facebook, hari ini dikabarkan mencapai 310 miliar orang di dunia yang hidup di 58 negara, termasuk kita di Indonesia. Bila Amazon tutup hari ini, boleh jadi dalam 72 jam ke depan akan putus seluruh rantai jaringan komunikasi sedunia. Sementara Microsoft digunakan oleh 1,4 miliar pengguna aktif perangkat Windows setiap hari. Demikian pula, Meta mempunyai jaringan pelanggan terluas dengan jumlah mencapai 3,9 miliar per bulan. Meta adalah sebuah perusahaan raksasa jaringan komunikasi yang tengah menguasai dunia kita.
Yang lebih dahsyat lagi adalah Nvidia, yaitu perusahaan tempat bergantung beroperasinya chip AI (Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan). Bila perusahaan Nvidia berhenti, maka “gelaplah” dunia informasi kita, terutama informasi-informasi yang sering Anda baca dalam HP ketika Anda bertanya kepada AI. Dan nomor satu yang paling “raksasa” adalah Google. Bila kelima perusahaan tersebut disebut raksasa, lalu apa nama perusahaan yang tidak raksasa? Mungkin salah satunya perusahaan Telkom di Indonesia.
Nvidia didirikan tahun 1993 di Amerika Serikat sebelum adanya Amazon. Salah satu pendiri Nvidia bernama Jensen Huang. Mula usahanya di bidang pembuatan kartu grafis (VGA) untuk gaming seperti GeForce. Apa itu GeForce? Ini adalah kartu grafis yang ditanam di dalam laptop Anda. Guna GeForce ialah untuk membantu proses grafis dan visual saat menjalankan laptop. Seiring berlalunya waktu, produk GeForce milik Nvidia juga semakin canggih. Maka hati-hati Anda saat membeli laptop baru, tanyakan jenis GeForce Nvidia yang ditanam di dalam laptop Anda. Ini bilamana Anda suka bermain game atau suka mengedit video di laptop, maka Anda memerlukan GPU khusus produk Nvidia yang bernama RTX atau GTX. Akan tetapi, bilamana hanya untuk mengetik saja di laptop, maka cukuplah dengan GPU terintegrasi, kata “Mbah” Google. Sebab harga RTX 3050/3060 saja pada bulan Mei 2026 di Indonesia bisa berkisar antara Rp2,7 juta di luar harga laptop tentunya. Sedangkan RTX termahal di Indonesia berjenis RTX 5090 32 GB harganya bisa berkisar Rp66 juta hingga Rp143 juta, termasuk PC Build, kata Google. Apalagi jenis Leadtek Quadro Nvidia RTX 6000 48 GB GDDR6 harganya, kata Google, mencapai Rp166.479.000. Perangkat inilah yang ditanam di dalam laptop. Apakah laptop Anda sudah memilikinya? Untunglah saya belum membeli RTX jenis ini. Saya masih dengan laptop harga murah Rp8.000.000, mengingat laptop saya pernah dicuri dalam perjalanan dari Lebak Bulus, Jakarta, di dalam bus sleeper Sinar Jaya ke Yogyakarta sekitar tanggal 13 Juli 2024, semalam sebelum ujian tertutup S-3 di UIN Yogyakarta. Bagaimana kalau Nvidia berhenti memproduksi GeForce? Seluruh anak-anak muda yang suka game dan para insinyur yang perlu membuat grafis di laptop akan “kalang kabut” (kacau).
Selain memproduksi GeForce, Nvidia juga berkembang merajai dunia dalam bidang pembuatan mesin AI (Kecerdasan Buatan), yaitu dalam hal merancang sistem dan perangkat lunak AI tersebut. Sekali lagi, perangkat lunak untuk AI adalah produk Nvidia. Jadi sekarang, bilamana Anda bertanya pada AI di HP Anda, “Apa rahasia bumbu masakan rendang Padang?”, maka AI akan membuka rahasianya kepada Anda. Akan tetapi, “nyawa/roh” AI adalah hasil bikinan perusahaan Nvidia, sementara rahasia bumbu rendang Padang masih misteri. Bila dicabut nyawa AI oleh Nvidia, AI tak bisa bekerja. Itu analisis saya.
Dapat disimpulkan bahwa dunia memang “bisu” tanpa komunikasi, tetapi perusahaan pembuat perangkat komunikasi nyatanya telah mendominasi dan mengalahkan dunia kita, cara pandang dunia kita, tradisi kita, dunia anak-anak kita, dakwah agama kita, bahkan fikih kita. Boleh jadi pada suatu hari nanti, walaupun kini masih berbahasa Arab, kitab-kitab kuning di pesantren, Al-Qur’an 30 juz, Shahih Bukhari berjilid-jilid, Tafsir al-Qurthubi 14 jilid, dan banyak buku di perpustakaan akan menjadi “tumpukan kertas”, sementara sebuah Kindle kecil dan tipis bisa digenggam hanya dengan sebelah tangan ke sana kemari. Saya yakin ulama-ulama kita akan terbiasa dan nanti terpaksa pintar membaca Kindle. Kehadiran Kindle akan memengaruhi dunia dakwah Islamiah. Persoalannya sekarang terletak pada penguasaan bahasa Inggris oleh para da’i. Bahkan Amazon juga memproduksi metode jual beli online tanpa kasir (cashierless). Di sini ajaran fikih Syafi’iyyah tentang syarat sah jual beli yadan bi yadin (serah terima jual beli barang dari tangan ke tangan secara tunai dalam satu akad), terutama dalam item ribawi seperti emas, perak, dan mata uang, akan dan bahkan telah dihadang oleh produk Amazon di atas, yaitu jual beli modern tanpa kasir, tanpa ijab kabul, tanpa yadan bi yadin, dan umat Islam, termasuk Anda dan saya, sama-sama terperangkap di dalamnya. Itulah agama, itulah teknologi.
Lalu bagaimana bila diskusi di atas kita tarik ke ranah filsafat? Apa pelajaran yang bisa dipetik? Perusahaan-perusahaan raksasa di atas jelas mempekerjakan tenaga manusia yang mengerti sains. Apa itu sains? Sains ialah ilmu manusia tentang rahasia Sunnatullah. Apa itu Sunnatullah? Sunnatullah adalah hukum-hukum ketetapan Allah yang telah melekat dalam alam sejak kejadiannya, misalnya api sifatnya membakar minyak, kayu, dan lainnya; garam asin; cabai pedas; perempuan hamil dan melahirkan anak, bukan laki-laki yang hamil; kullu nafsin dzaiqatul maut. Ini semua ketetapan Allah dalam alam. Rahasia-rahasia dalam ketetapan alam inilah yang ditemukan oleh manusia sehingga menjadi sains, dan dari sains berkembang menjadi teknologi. Apa itu teknologi? Teknologi adalah hasil kepandaian manusia akibat memanipulasi Sunnatullah. Memanipulasi artinya “mempermain-mainkan” Sunnatullah dalam alam agar tercapai maksud manusia. Teknologi maju pesat sehingga berdirilah perusahaan-perusahaan raksasa di atas seperti Nvidia dan Amazon, termasuk Google. Mereka rajin meriset rahasia Sunnatullah, banyak temuan baru penelitian di bidang ilmu-ilmu alam, sementara pesantren-pesantren kita di dalam hutan, jauh dari kehidupan kota, masih diajari fikih klasik yang nyatanya sebagian ajarannya telah dihadang oleh teknologi e-commerce produk Amazon. Kata lagu: “Nasib ya nasib … kenapa jadi begini?” Mirip negara-negara Arab Sunni yang dihadang oleh dominasi Amerika, demikian pula fikih klasik kita dalam mu’amalat dihadang oleh produk-produk perusahaan raksasa dari Amerika. “Nasib ya nasib … kenapa jadi begini?” Lalu filsuf Ibnu Rusyd datang dengan logat Betawi: “Ape gue bilang dulu?”
Terkait “penyesalan” Ibnu Rusyd, dalam tradisi Islam dikenal sebuah atsar (perkataan sahabat Nabi): Tafakkaru fi khalqillah, wa la tafakkaru fii dzatillah (Pikirkanlah olehmu tentang ciptaan Allah, jangan memikirkan zat Allah). Perintah (amar) dalam fii khalqillah di atas menyuruh kaum Muslimin berpikir kausalitas (sebab akibat), tetapi cara berpikir kausalitas tersebut telah “dibunuh” pada zaman klasik, katanya, oleh Imam al-Ghazali. Maka, Ibnu Rusyd dalam kitabnya Tahafut al-Tahafuth mengatakan bahwa tanpa adanya kaum Muslimin berpikir kausalitas, ilmu pengetahuan akan padam di dunia Islam. Inilah yang telah berakibat jauh. Ternyata benar Ibnu Rusyd. Hingga kini perusahaan raksasa Nvidia dan Amazon telah membuktikan “kelirunya” roda sejarah epistemologi umat Islam di zaman klasik. Bahkan hingga kini, menurut saya, metode pembacaan teks burhaniyah usulan al-Jabiri tersebut oleh para ulama masih digunakan pada batas-batas menjaga agar jangan sampai produk-produk teknologi modern melanggar/transgress moral Islamiah atau bila ada produk yang disinyalir mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Bila dinilai tidak melanggar atau tidak haram, maka diberi “stempel”, misalnya Label Halal oleh MUI. Akan tetapi, mereka belum sampai menukik untuk memfilsafati causality to be inherent dalam Sunnatullah sebagaimana yang dianjurkan oleh atsar di atas sejauh terkait Natuurwissenschaften. Nampaknya kini Syiah Iran lebih dulu membenahi diri di bidang teknologi daripada Sunni Arab dan Syafi’iyah Indonesia. Itulah agama, itulah teknologi, dan itulah agama (yang menyejarah). Semoga adik-adik kawula muda memahami “kemelut” epistemico-teologis Islam masa klasik di samping canggih menggunakan HP dan laptop setiap hari.
Demikianlah Bapak-bapak/Ibu-ibu dan Adik-adik semuanya. Terima kasih telah membaca tulisan saya. Mohon dikoreksi bila saya salah dan dimaafkan.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Jambi
Tinggalkan Balasan