Umat manusia, sejak hadir di muka bumi, tidak pernah lepas dari peran orang lain baik saudara, tetangga, maupun teman kerja. Ini menunjukkan bahwa bahkan kelahiran manusia pun merupakan buah dari kerja sama dengan tim medis serta solidaritas kemanusiaan yang ada dalam diri setiap dokter, bidan, atau tenaga kesehatan lainnya.
Tanpa disadari, perlahan-lahan kita kerap mengabaikan pentingnya kerja sama itu sendiri. Pekerjaan yang dihasilkan secara kolektif tentu akan mendapatkan pengakuan bersama pula. Itulah sebabnya muncul pepatah, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Kemudahan yang dirasakan sejatinya merupakan hasil dari kerja sama antarindividu atau antarkelompok.
Pepatah tersebut mengandung banyak makna. Dalam pandangan saya, setidaknya terdapat tiga makna penting sebagaimana digunakan dalam judul tulisan ini, yaitu: kerja sama, solidaritas, dan relasi sosial.
Pertama, kerja sama hadir untuk memberikan kesempatan kepada orang lain agar turut terlibat dalam suatu kegiatan atau pekerjaan yang sedang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang. Meskipun istilah ini memiliki banyak definisi, namun secara sederhana dapat dipahami sebagai adanya kesepakatan untuk membangun, menjunjung tinggi, dan menyelesaikan suatu persoalan secara bersama-sama.
Kedua, solidaritas, tanpa disadari, merupakan bentuk kepekaan, kesetiaan, dan perasaan ingin merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Singkatnya, solidaritas adalah wujud kemanusiaan dan kepedulian tanpa disertai motif yang dapat merugikan atau menjatuhkan pihak lain. Namun demikian, saya kira bagian ini perlahan mulai tergerus di dunia nyata mungkin karena solidaritas digital dianggap telah menggantikan makna “perasaan ingin mengalami” secara langsung.
Ketiga, relasi sosial, meskipun merupakan istilah yang kadang problematis, tetap dinilai membawa makna positif. Salah satu contohnya terlihat dalam kepentingan individu, keluarga, atau bahkan kelompok tertentu. Seseorang dapat melakukan sesuatu demi suatu tujuan tertentu, dan relasi itu dipertahankan karena memiliki nilai dan kepentingan yang dianggap penting.
Hal-hal di atas tentu saja lazim terjadi dalam kehidupan kita saat ini, baik dalam lingkungan sosial, keluarga, maupun di lembaga pendidikan. Di dunia pendidikan, misalnya, seseorang bisa meraih hasil yang diinginkan karena adanya kerja sama dan solidaritas. Sebagaimana perumpamaan yang populer, “Janganlah berbuat seperti sapu yang meninggalkan ikatannya; sebatang lidi tidak berarti apa-apa, tetapi dalam satu ikatan, sapu akan mampu menyapu segala-galanya.”
Dengan demikian, masih relevankah kerja sama, solidaritas, dan relasi sosial?
Tinggalkan Balasan