Seorang kawan bertanya, “Apakah perkuliahan S3 harus dilaksanakan secara tatap muka?” Pertanyaan sederhana dengan nada kritis itu dilontarkan kepada saya yang tengah menempuh program doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di semester ini, saya punya tiga jadwal kuliah: (1) Pemikiran Islam Klasik-Kontemporer; (2) Islam dan Teori-teori Sosial; dan (3) Agama dan Isu-isu Global. Masing-masing kuliah memiliki bobot Satuan Kredit Semester (SKS) sebesar 4, sehingga totalnya adalah 12 SKS. Setiap mata kuliah berlangsung dalam 14 pertemuan, yang terbagi ke dalam dua fase: tujuh pertemuan pertama bersama dosen pengampu awal, dan tujuh pertemuan berikutnya bersama dosen selanjutnya.
Meski telah menempuh jenjang sarjana dan magister di tempat yang sama, dosen-dosen yang saya temui termasuk baru. Mungkin karena selama jenjang sarjana-magister saya kuliah di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam yang terletak di Kampus Timur, sementara sekarang saya kuliah di program pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies yang terletak di Kampus Barat. Sebab dosennya berbeda, experience yang diterima juga berbeda. Cerita sedikit, sekelas berjumlah 11 orang. Pada satu mata kuliah, saya termasuk “yang selamat”, berhasil menyelesaikan presentasi. Beberapa kawan ada yang kena “stop tengah jalan”. Seolah tidak ada yang benar saat kami berpresentasi. It’s okay.
Kembali pada pertanyaan, “Apakah perkuliahan S3 harus dilaksanakan secara tatap muka?” Jawabannya, “Menurut UIN Jogja, ya, perkuliahan harus dilaksanakan secara tatap muka.” Dengan kesadaran penuh, saya mengambil pilihan ini. Pada sebuah karya berjudul “Momong Kampus, Merekatkan Umat dan Membangun Bangsa” karya Prof. Al Makin, pada sebuah tulisan yang berjudul “Membangun Pertemanan dan Jaringan”, beliau mengatakan:
“Pendidikan itu membangun network, pertemanan, bekerja sama, dan menghargai link-link yang Anda bangun. Jangan remehkan persahabatan, pertemanan, dan belajar dengan para teman dalam bergurau, saling mendorong, saling bertengkar, saling cemooh. Itu semua pendidikan penting.”
Lebih lanjut, Prof. Al Makin menceritakan bahwa di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, pertemanan telah melahirkan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) yang melahirkan banyak aktivis, penulis, penerbit, kiai, dan pemikiran. Dulu ada kelompok limited group: Mukti Ali, Djohan Effendi, Ahmad Wahib yang mewarnai pemikiran dan gerakan Indonesia. Ada juga kelompok Al-Djamiah di Yogyakarta, berupa kelompok diskusi yang melahirkan Taufiq Adnan Amal, Syamsu Rizal Panggabean, dan lain-lain. Kampus ini juga melahirkan Koperasi Mahasiswa yang terkenal itu, tokohnya Dr. Yayan Suryana, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora.
Prof. Al Makin juga mengajak berefleksi tentang orang-orang sukses, pengusaha atau pejabat di Indonesia. Mereka meraih jabatan politik dan ekonomi bukan karena mereka hafal pelajaran dan ujian, atau mendapatkan nilai A semua. Ada faktor lain, dan di antara faktor lain itu, mereka punya teman, jaringan. Misalnya, menjadi menteri, dipilih presiden, kebetulan temannya itu dekat dengan yang menentukan. Lalu secara bahu-membahu, “getok tular” membisikkan nama jadi menteri. Para pengusaha juga begitu. Modalnya adalah trust atau kepercayaan.
Pada hakikatnya, kita adalah manusia, berapa pun nilai yang kita terima di jenjang kuliah, cum laude atau tidak cum laude. Tentu kita akan bangga dan puas kalau nilai kita A semua. Jika tidak A semua, kita juga tidak boleh kecewa, lha wong kita manusia. Tapi satu hal yang tidak boleh luput: jangan lupa membangun persahabatan dan jangan melalui masa sulit sendirian. Apalagi, kadar bacaan, kapasitas, kecepatan, dan daya tangkap manusia itu berbeda. Lalu, kenapa harus A semua? Pendidikan, pada akhirnya, bukan hanya tentang ijazah, prestise, atau nilai formal. Pendidikan adalah ruang untuk membangun jejaring sebagai bekal menuju apa pun yang kita cita-citakan. Banyak hal besar justru tidak dicapai sendirian, melainkan melalui kebersamaan, pertemanan, dan jaringan yang tumbuh selama proses itu berlangsung.
Sampai di sini, terang bahwa pendidikan itu “harus tatap muka”. Sebab dengan tatap muka, peserta didik bisa membangun pertemanan dan jaringan. Sebagaimana Marcus Aurelius (Kaisar Romawi Kuno) dalam buku Meditations, menelusuri sanad keilmuan dari bapak, bapak angkat, kakek-nenek, dan para guru yang membentuk dirinya, serupa dengan tradisi sanad dalam hadis dan fikih Islam. Namun, relasi dan sanad intelektual itu hanya bermakna jika pendidikan tidak direduksi menjadi sekadar angka, melainkan dijaga sebagai proses pembentukan diri yang utuh.
Pendidikan akan kehilangan maknanya ketika direduksi menjadi sekadar nilai. Oleh karena itu, ekosistem yang menormalisasi kemudahan dan lebih menghargai kelancaran daripada kedalaman, nilai yang dihasilkan tidak representatif. Proses belajar pun berubah menjadi jalur aman, bukan ruang pergulatan. Padahal, pendidikan menuntut ketegangan intelektual dan pembentukan karakter. Nilai hanya penanda, sementara yang utama adalah bagaimana manusia dibentuk: cara berpikirnya, keluasan wawasannya, serta kemampuannya membangun relasi yang bermakna.
Yogyakarta, 4 Mei 2026.
*Bapak Anak Tiga
Tinggalkan Balasan